(Ala Magic Com) Pizza Rumahan Ala Siwi Nona Tobeli

pizza magic com_titin

“Aku paling gak bisa makan roti dicampur daging, sosis, dan sebangsanya.”

Iyes, dulu sih pernah ngomong begitu. Dan kalau makan pizza (gratisan) juga masih makannya pelan-pelan, watir gak pas di lidah. Namun entah gimana, tiba-tiba kepengen bikin pizza ala-ala.

Dan akhirnya, inilah pizza magic com yang (udah pernah) heeeits entah dari kapan tau. Aku aja yang ketinggalan, pastinya.

“Kok bentuknya aneh!”

Kalau itu komen pertama temen pas aku pamer lewat WA. Pfft.. iya siy emang aneh. Keju yang sedianya diparutin di atasnya ternyata lembek, jadi aja gak pake keju. Tapi enak kok, dan kayanya siy bikin beginian mah anti gagal :D.

Maaf kalau penampakannya kurang menyenangkan, maklum ini pertama kali bikin pizza, dan kedua kali bikin beginian setelah kemaren bikin brownis tea. Di magic com pun. *pledoi.

Sila bila ada yang mau mencoba, saya mengambilnya dari resep Mba Siwi Tobeli:

Saos Pizza

Bahan:
2 siung bawang putih, cincang
1/2 buah bawang bombay ukuran sedang.
1 sdt merica bubuk atau secukupnya
1 buah tomat merah, buang isi dan potong kotak kotak
1 batang daun bawang potong halus, optional
4 sdm saos tomat
3 sdm saos cabai
gula dan garam secukupnya

Cara Pembuatan:
Tumis bawang putih, bombay, dan merica sampai harum, kemudian masukan tomat.
Masukkan saos tomat dan saos sambal bumbui dengan garam dan gula.
Aduk, beri air sedikit, aduk sampai kental dan masukan daun bawang tunggu sampai matang. Sisihkan.

Topping:
Sosis diiris tipis
Keju parut »»» aku pakai keju kraft quick melt biar kejunya lumer. (Toping bisa diganti sesuai selera) –> si sayah gakjadi dikejuin. 
Bahan Roti :

150gr tpung terigu protein sedang
1 butir telur kocok lepas
1/2 sdm fermipan
1/2sdm minyak goreng
1sdm margarin
air secukupnya
Sejumput gula dan garam
Cara:
Campur tepung terigu, sejumput gula dan fermipan hingga rata.
Masukkan telur yang telah dikocok lepas. Aduk rata.
Tambahkan minyak goreng dan air secukupnya. Adoni sampai setengah kalis.
Masukkan margarin & sejumput garam. Uleni kembali hingga benar-benar kalis elastis.

Tutup adonan dg kain basah. diamkan 30mnit. (Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas) Setelah adonan mengembang, adonan siap ditata diwadah
magicom yang sebelumnya oles margarin.

Olesi atas adonan dengan saos, tata toping, kemudian masukan ke magicom. Selama 10 menit posisi magic com dalam keadaan cook selanjutnya 20 menit posisi warm
Keluarkan pizza yang sudah matang. Siap disajikan dengan saos sambal dan saos tomat.

penuh sesak :D
penuh sesak 😀

Kesulitan:
Karena aku bener-bener gak kebayang awalnya gimana bikin pizza ini, jadi pas gepeng-gepengin adonan (bahasanya apa yak ahaha..) sobek mulu. Untuk ukuran Nona Tobeli ini aku bikin jadi dua pizza, karena magic com nya yang ukuran sedeng.

Adonan pertama pake toping saos dan sosis (gagal ngeju) dan adonan yang kedua pake toping saos-jagung-mayo. Dan ternyata aku kebanyakan naruh jagung sosisnya, jadi aneh gitu bentuknya :D. 

Yang jelas next harus lebih oke rasa dan bentuknya. Sekian dan semangat belajar!

 

 

Bandung, 18/2

 

Advertisements

Mari Ke Semarang Demi #OOTD

stasiun tawang
stasiun tawang

 

Awal Januari, 

“Kayaknya enggak enak deh, kalau sampai entar si tante nganterin kita. Kan kita pasti banyakan poto-potonya.”

Kami –aku, Ninu dan Teh Nana, sedikit berbisik membicarakan rencana jalan-jalan keliling Semarang esok hari.

Malam itu, sekira pukul 20.00 kami baru sampai di rumah asri Tante Ami di Jl. Mayjen Soetoyo. Semarang yang sejak maghrib diguyur hujan cukup mendinginkan suhu yang menyengat dua hari ini. Tante Ami, suami, Jodi serta Damnti dengan ramah menyambut kami, bahkan sudah tersedia menu lengkap siap santap di meja makan.

Sepanjang perjalanan setahun ke berbagai daerah, rasanya baru kali ini extend dan niat jalan-jalan. Biasanya setelah lelah berkunjung dari rumah ke rumah mencari informasi serta foto, kami hanya jalan sekadarnya saja dan kemudian pulang.

Malam itu kami tidur nyenyak, tanpa terpikir apapun soal kerjaan, tak seperti malam sebelumnya. Persis seperti celotehan si teteh, “Kok kalo jalan-jalan gini enak yah, gak keinget kerjaan. Beda sama hari kemaren, meski jalan ke tempat wisata tetep aja gak santai.”

pintu dan daun jendela

Suasana masih sepi, ketika Jodi menurunkan kami di Lawang Sewu pukul 09.00 lebih. Iya, akhirnya kami hanya diantar sampai Lawang Sewu, Tante Ami ada agenda, pun Jodi. Matahari sudah tampak garang, Mba-Mba penjaga tiket menyerahkan 3 tiket seharga Rp10.000 kepada kami. Itu karena weekend, kalau weekdays cukup Rp5000 saja untuk dapat berkeliling Lawang Sewu. Oiya, ada jasa guide juga, paling Rp30.000 kata Ninu. Tapi gaktau juga, enggak sempet tanya waktu itu.

“Ada gak yah, yang berani pacaran di sini? Kan serem.” Kata Teh Nana.
“Ada kali, Teh. Mungkin malah banyak.” Kami bertiga tergelak.

Lawang sewu berarti pintu seribu. Menurut Wikipedia dahulu lawang sewu merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Katanya jumlah lubang pintunya terhitung sebanyak 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 (sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian dengan menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun [dengan engsel], ditambah 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser).

Pertama kali masuk ke lingkungan Lawang Sewu, aku merasa seperti suasana di sekitar gedung sate, mungkin karena sama-sama bangunan tua yang berwarna putih. Pintu dan jendelanya memang banyak sekali.

Aku tak merasakan aura apapun di sana, meski ruangan yang luas, jendela serta pintu yang besar menimbulkan kesan yang berbeda.

Kondisi Lawang Sewu cukup bersih dan menyenangkan untuk sebuah bangunan tua. Memang seharusnya beginilah keadaan bangunan yang menjadi cagar budaya. Namun ada satu gedung yang ternyata sudah ditutup untuk umum.

Di bagian belakang ada kamar mandi yang bersih dan nyaman, berdekatan dengan smooking area. Menurutku bagian paling spooky itu justru smooking area tersebut. Sebenarnya tempat itu hanya semacam beranda dengan kursi-kursi tua yang berjajar, tapi mungkin karena letaknya tertutup gedung dan di pojok, jadi kelihatan lengang.


Sebenarnya tak sampai satu jam jika ingin menyusur Lawang Sewu, apalagi kami memilih tak menggunakan guide, tapi foto-fotolah yang membuatnya menjadi lama. iya, berbagai sudut di Lawang Sewu ini cocok sekali jika digunakan untuk foto #OOTD.

“Kalau anakku dibawa ke sini, pasti enggak akan betah deh, pasti lari-larian muluk terus minta pulang.”

Ada benarnya juga kata-kata Teh Nana tersebut. Untuk Balita pilihan wisata ke Lawang Sewu rasanya kurang tepat. Bangunan luas dengan tangganya yang tinggi tentu lebih berisiko daripada ketika berkunjung ke Kuil Sam Poo Kong, destinasi kami selanjutnya di Semarang ini.

This slideshow requires JavaScript.

Oiya, ini link tentang sejarah Lawang Sewu yang lebih lengkap. Termasuk juga sejarah tentang penjara bawah tanahnya.

 

bandung, 15/2/16

 

(Ala Magic Com) Brownis Serba 6 Sendok

SAMSUNG CAMERA PICTURES
penampakan brownis

Bismillah. Entah gimana asalnya aku bisa nge klik link “brownis magic com serba 6 sendok.” Dan tiba-tiba keidean untuk mengeksekusinya. Apalagi beberapa bulan terakhir memang sedang program rajin masak (di magic com), jadi pengen nyoba bikin sesuatu selain menu sarapan, makan siang dan makan malam saja.

Tapi ya, aku bener-bener lupa link resep itu. Maafkan. Udah sempet gugling tapi gak ketemu juga. heu..

Berikut bahanbahannya:
2 butir telor
6 sdm gula pasir
6 sdm tepung terigu
6 sdm milo bubuk
6 sdm minyak
1/5 sdm baking powder

Kocok gula dan telur sampai mengembang. Aduk rata terigu, milo dan baking powder. Campur ke adonan telur gula. Aduk hingga rata.

Siapkan panci ajaibnya. Olesi mentega dan tepung, lalu masak hingga ‘ngejegleg’.

Hasilnya lumayan juga. Apalagi untuk seorang aku yang baru pertama kali seumur hidup bikin beginian. Hanya memang tekstur kering dan kasar (mungkin faktor tepung dan lama masak). karena magic com kuganjel di posisi cook sampe lebih dari 15 menitan, bawahnya pun gosong.

Topingnya bisa diberi keju, meses atau apapun sesuai selera. kalau aku nambahin meses, karena memang tengah tersedia di kosan.

Next tetep pengen nyoba lagi. Dan yang jelas jadi makin penasaran resep-resep lainnya yang bisa dibikin pakai kompor ajaib ituh. 

Selamat mencoba bagi yang ingin.
antim24, 8/2/16

Lagu Galau di Grand Sae Solo

SAM_1258

Bismillah.

Solo, 2-3 Februari

“mau bilang sayang tapi bukan pacar”

tembak tidak ya?
tembak tidak ya?
tembak tidak ya?
tembak tidak ya?

Mari nge youtube lagunya Al..! Aku mengambil handphone dan segera menulis keyword “lagu baru Al.”

Mumpung ada wifi gratis.

**

Iyes, aku penasaran setelah seharian kemarin ada temen yang menyenandungkan lagu itu berulang-ulang dan menjadi tertawa tak habis-habis setelah tahu liriknya seperti yang tertulis di atas dan makin takjub setelah tahu judulnmya; Lagu Galau.

Ahmad Dhani memang bisa banget menangkap selera pasar. Dan aku juga baru tahu kalau itu soundtrack sinetron yang tiap hari ditonton sama anak kosan. Oh my..

Dari semalem wifi di Grand Sae Solo cukup kenceng, sehingga fakir kuota sepertiku menjadi gembira ria mencari id dan passwordnya. Apalagi paket internet yang kudaftarkan gagal terus, sehingga wifi gratis menjadi surga dunia kala itu.

kami —aku, renol, ninu, ae (jangan bosen kalau di tiap postingan perjalanan nantinya akan selalu memuat nama mereka) baru chek in di Grand Sae selepas Isya. Dua hari di Solo selalu ditemani hujan deres, sehingga sesi foto yang sedianya dilakukan ba’dha dzuhur sedikit terganggu dan waktu chek in kami pun menjadi semakin malam.

Perutku yang baru terisi nasi goreng enak seharga 5000 rupiah masih kerasa lapar. Begitu pun yang lain, tapi karena badan sudah lengket dan ingin segera beberes, kami segera ke business room Grand Sae.

Nyaman. Itu yang yang terasa pertama kali memasuki salah satu kamar di lantai 5 tersebut. Ada dua bed besar dengan dua meja mengapit pajangan yang di atasnya ada TV layar datar. Tak ada lemari penyimpanan baju, tapi ada semacam cantholan yang disekat kaca sebagai pengganti lemari. Di sana ada beberapa hanger.

Untuk harga berkisar 280.000, kamar ini termasuk murah. Sebelumnya kami pernah menginap di salah satu hotel di Semarang dan Yogyakarta dengan harga yang sama, kamarnya kecil. Hanya sayang, tak ada jendela yang bisa membebaskan pandangan ke arah Kota Solo. Meski pas keluar lorong kami bisa melihat pemandangan kota yang ternyata dekat dengan Stasiun Purwosari dan juga Aston Hotel.

Hari semakin malam, tapi perut semakin keroncongan. Karena tak berminat dengan menu hotel, maka kami pun memesan ayam goreng merk tertentu. Pukul 22.00 kami pun makan dengan suhu ruangan cukup dingin sambil nonton discovery channel yang didubing, sehingga jadi aneh kedengarannya.

Kemudian kami tidur dengan nyenyak. Namun entah kenapa, AC terasa tak berfungsi padahal sudah di angka 16. Kami beriga kepanasan saat bangun jam tiga pagi.

Buat yang mau ke Solo, hotel ini cukup recommended. Mba resepsionisnya juga ramah. Kamar mandi enakeun dengan air panas dinginnya. Karena datang sudah malam dan harus pergi pagi, jadi kami tak sempat melihat-lihat hotel ini. Tapi sepanjang jalan ke kamar maupun ke restoran, pernak-pernaknya cukup bagus.

Jelang pukul 06.00

“Kirain Renol enggak akan tidur lagi.”
“Aku enggak tidur, kok.”

Renol pun beranjak untuk mengambil buku kemudian melanjutkan bacaannya.

Mari nge youtube lagunya Al..! Aku mengambil handphone dan segera menulis keyword “lagu baru Al.”

Mumpung ada wifi gratis.

Dan Lagu Galau itupun masih sesekali terdengar dan nampak dekat sekali di telinga kami hingga sarapan di restoran di Lantai 2 Grand Sae. Menunya cukup enak dan beragam. Ada nasi putih lengkap dengan cah pokcoy, semur ayam kentang, bihun goreng, ada juga bubur ayam, nasi goreng, salad, pun rerotian.

Ruang restoran cukup besar serta terang dengan kaca-kaca lebar di sekitarnya. Karena masih pagi, jadi kami bebas memilih tempat duduk, menunya pun masih lengkap.

Dua hari di Solo menyenangkan sekali. Dapet hotel murah, nemu nasgor 5000 enak, masakan serba 2000, buah naga sekilo 5000. Ayam penyet 11.000 enak banget pake dus pula.

“Geura pesen taksi!” Kata Ninu selesai makan.

“Halo, Pak ini taksi Mahkota? Kami mau pesen ke Grand Sae ya.. Iya kami ada di lobinya sekarang.”

Tak sampai lima menit, taksi yang dipesan pun datang. kami saling berpandangan dan segera menuju pintu lobi. Satu lagi yang ajaib di Solo, pesen taksi cepat sekali datangnya, dan tanpa diminta nomor telpon si pemesannya.

This slideshow requires JavaScript.

Grand Sae Hotel 

Jl Sam Ratulangi No.18
Solo Central Java
Indonesia
Phone:
0271 734 545
Fax:
0271 734 455
Email:
info@grandsaehotel.com

 

 

 

Ps. Potonya dikit, enggak sempet moto pas masih rapi. jadi seadanya gini. plus males edit :))

 

Hei, Pasuruan!

senja di pasuruan
senja di pasuruan

Perjalanan sekali sebulan ini sebenarnya sangat cukup untuk aku dapat menuliskan rupa-rupa cerita, meski kemudian semua terkalahkan oleh satu kata; malas.

Semua cerita hanya mengendap, tertuliskan dengan ending normatif, menghilangkan pengalaman-pengalaman seru yang akhirnya terlupakan, tertumpuk oleh pengalaman seru lainnya. Sedikit menyedihkan memang.

Akan tetapi satu hal, bahwa hidup hidup di lingkungan nyaman, aman, adalah nikmat yang taktergantikan, sekaligus pengingat agar tak habis rasa syukur pada Sang Pemberi Hidup. Iya, seharusnya begitu..

Surabaya-Pasuruan, November 2015

daun kering

Perjalanan Bandung-Surabaya yang melewati empat waktu shalat cukup membuatku lelah. Terbayang, begitu sampai Stasiun Gubeng langsung menuju mushala, beberes dan bisa sekadar meluruskan kaki atau mencari sarapan pagi sembari menunggu Ninu yang sampai dua jam lagi.

“Taxi, Mba.” Sapaan khas dari para ‘penjemput’ di setiap stasiun atau terminal mulai tedengar begitu kami, –aku, Renol, Ae, sampai di Gubeng. Aku celingukan mencari mushala serta kamar mandi. Namun ternyata stasiun ini tak cukup bersahabat, karena mushala ada di dalam stasiun, sementara kami sudah terlanjur berada di luar dan mencari tempat duduk yang ternyata jumlahnya tak seberapa dibandingkan penumpang yang juga ingin segera meletakan barang bawaan dan menunggu sang penjemput –mungkin.

Sedikit menyesal kenapa tadi tak menyempatkan diri beberes di kereta, karena kamar mandi  yang hanya dua buah taklagi berfungsi baik. Airnya sedikit sedangkan antrian ibu-ibu takbisa dibilang sedikit.

Dua jam kemudian, aku masih di Gubeng. Kali ini Ninu sudah bergabung bersama kami. Dan dalam waktu itu aku, Renol, Ae sudah mandi lengkap dengan sarapan enak di Girilaya, rumah Nenek Renol.

Barang bawaan kami tergeletak begitu saja, dan kami pun duduk di lantai karena kursi tunggu yang penuh oleh penumpang yang entah mau berangkat atau tengah menunggu penjemput seperti kami.

Macet. Itu kata sang penjemput, Relawan Inspirasi yang rumahnya akan menjadi tempat singgah kami dua hari ke depan. Sehingga sampai pukul 9.30 kami masih panas-panasan di tempat tunggu Stasiun Gubeng.

Ketika kemudian ia datang, kami langsung memindahkan barang ke bagasi mobil dan memulai perjalanan yang hampir tiga jam menuju Wonosari, Pasuruan. Sepanjang jalan hanya kering kecokelatan yang terlihat, musim kemarau yang panjang menyisakan banyak jejak di kanan kiri jalan. Namun memasuki daerah Wonosari, pemandangan berganti. Masih ada sawah yang menghijau dan serta kebun jagung yang menguning emas. Jejak kemarau sedikit tersamarkan di daerah ini.

“Di sini ada wifi-nya ya, monggo kalau mau internetan. Bebas.” Pak Alim, Relawan Inspirasi yang kini rumahnya kami singgahi, memberitahukan kepada kami begitu kami sampai.

Ruang tamu yang hanya memanjang tanpa kursi dan meja tamu itu terlihat luas. Ada seperangkat PC tua dan printer yang tergeletak di pojok ruangan.

“Itu PC hibah dari temen ODOJ, biasanya anak-anak asuh tiap malem belajar di sini. Kalau lagi musim ujian bisa sampai 30 orang. Mereka ngerjain tugas dan belajar di sini. PC dan wifi itu untuk mereka,” lanjutnya.

Sejenak, aku teringat Kebumen. Suasana desa seperti itu selalu mengingatkanku akan rumah. Dan aku masih bertanya, kenapa harus ada ‘Relawan Inspirasi’ di sini.

“Tiap pagi dan sore, pancuran itu juga bakal ramai. Banyak yang mandi di situ.”

Aku mengenyit, melihat pencuran yang hanya diberi pembatas ‘seadanya’ di pojok halaman. Bagaimana bisa ada orang dewasa tega bebersih di tempat seperti itu.

“Yang punya WC pribadi di sini hanya beberapa.”

Aku semakin paham. Hingga ketika hari kedua di sana dan berkunjung ke salah seorang penerima manfaat aku cukup kaget saat disuguhi 2 gelas teh dengan beberapa ‘pisin’ untuk ber-enam.

“Ini anak saya yang pertama, umurnya sudah lima tahun.” Ibu muda tersebut menggendong bayi yang masih beberapa bulan sambil memperkenalkan anaknya.

“Mba sekarang usianya berapa gituh?”

“Saya masih 20 tahun. Pas habis tamat SD dinikahin. Suami udah 25 tahun waktu itu. Terus Kb dulu biar gak hamil. Di sini nikahmuda emang biasa, Mba..’

Aku terdiam. Takjub.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

antim 24, 30/01/6

 

 

 

Inspirasi dari TPA Ibu Yuni

IMG-20151225-WA0019
tangan yang berkeriput, semoga menjadi saksi di surga kelak

Suara tilawah Al Qur’an terdengar bersahut-sahutan di teras rumah yang tidak sebegitu luas itu. Iramanya mirip dengan murattal yang biasa kudengar dari kaset atau CD-CD. Tak terlalu lancar memang, bahkan sesekali mereka berhenti untuk saling mengoreksi. Ya, sebuah ”TPA” telah berdiri di teras salah satu warga Simomulyo Baru, Surabaya.

Akan tetapi jika TPA atau Taman Pendidikan Al Qur’an yang selama ini kita kenal berisikan anak-anak usia TK hingga sekolah dasar, maka berbeda dengan ‘TPA’ yang ada di sana. Sebanyak lima hari dalam satu pekan, ibu-ibu berusia 30 hingga lebih dari separuh  baya terbata belajar Al Qur’an. Ada yang masih belajar memahami huruf dan ada juga yang telah sampai Al Qur’an.

Adalah Ibu Yuni, perempuan berusia 30-an tersebutlah yang memulai semua. Terhitung sejak 2012 ia sudah mulai berinteraksi dengan ibu-ibu rumah tangga di sana dan mulai mengajarkan Al Qur’an.

“Awalnya saya diminta tolong oleh seorang teman untuk mendirikan semacam majelis di sini, tapi saya mulai semuanya dari belajar Al Qur’an terlebih dahulu,” ujar Ibu Yuni, saat berbincang santai denganku.

Menurut Bu Yuni, tak mudah memulai sebuah majelis Al Qur’an. Berbagai ancaman sempat ia terima dari pihak-pihak yang tidak senang akan kegiatannya tersebut. Padahal ia hanya mengajarkan cara membaca Al Qur’an, tak lebih.  Ancaman tersebut tak sekali dua kali, bahkan pihak-pihak yang mengancamnya mendatangi satu-satu peserta majelis Al Qur’annya, hingga akhirnya mereka takut dan sempat hanya tinggal tiga orang saja. Ibu Yuni juga sempat merasa seperti diikuti atau dicegat ketika akan memulai mengajar.

Akan tetapi Bu Yuni tak gentar, ia tak lantas berhenti mengajar ngaji hanya karena ketidaksukaan beberapa pihak. Meski cukup risih ketika aktivitas belajar membaca Al Qur’an tersebut ditungguin, mereka tetap santai dan tak terganggu. Bahkan Bu Yuni sempat mendatangi satu-satu orang yang memang berniat belajar mengaji untuk menjaga semangat mereka.

“Masa ada sih, orang dipenjara hanya gara-gara belajar ngaji,” Bu Yuni bercerita sambil mengenang awal-awal ia mengajar.

Dari mulai pos ronda hingga balai RW pernah mereka gunakan untuk belajar mengaji di bawah tatap curiga orang-orang sekitar. Isu-isu tak menyenangkan mengenai aliran inilah, aliran itulah ia tepis dengan kekonsistenannya datang dan tetap mengajar ngaji. Hingga lama kelamaan stigma itu pun bisa terlepas dengan sendirinya.

Rumah Bu Yuni tidak dekat, butuh waktu kurang lebih 30 hingga 40 menit untuk datang ke tempat mengajar. Belum lagi anak serta suami yang harus mendapat perhatian, juga aktivitas serupa yang ternyata ia jadwalkan di tempat lain. Iya, Bu Yuni tidak hanya mengajar di Simomulyo Baru, ia memegang daerah  binaan lain juga.

Bu Yuni, hanya sepenggal dari kisah perjalananku ketika meliput suatu desa di Surabaya. Secara tidak sengaja aku bertemu dengannya, dan Allah memberikan kesempatan untuk sedikit berbincang mengenai aktivitas ibu yangmenginspirasi itu. Bahkan, aku juga tak sempat berfoto dengan Bu Yuni, karena selesai berbincang sudah jelang maghrib dan Bu Yuni harus segera kembali ke rumah. Menunaikan hak anak beserta suaminya. Hanya ada beberapa foto yang diambil oleh seorang teman tentang aktivitas belajar Al Qur’an dari ibu-ibu rumah tangga tersebut.

Hari Ibu memang kembali mengingatkan kita bahwa banyak sekali perempuan tangguh yang berhasil mengoptimalkan peran di ranahnya masing-masing. Seperti Ibu Yuni yang berkeyakinan bahwa tak ada yang bisa menghalangi niat baik seseorang untuk terus belajar, meski itu orang terdekat sekali pun.

Terbukti sekarang “TPA” Ibu Yuni masih berjalan dan bahkan semakin diminati. Ketika mulai merasa kewalahan, Ibu Yuni berinisiatif untuk memanggil seorang temannya untuk ikut mengajar.  Hingga dia bisa lebih berkonsentrasi mengajarkan Al Qur’an dan temannya mengajari Ibu-Ibu yang masih belajar huruf hijaiyah.

Dan, tentunya ibu-ibu anggota “TPA” Ibu Yuni tak kalah menginspirasi, di balik tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang tak pernah berhenti, mereka selalu  bersemangat untuk menggali ilmu. Bahkan mereka inta waktu belajar mengaji mereka ditambah lagi. Januari nanti kabarnya mereka akan khatam untuk yang ketiga kalinya. Dan mereka selalu mengadakan syukuran ketika khatam al Qur’an.

“Di sini ada yang sudah berusia 66 tahun dan paling semangat belajar Al Qur’annya, loh! Beliau jadi inspirasi ibu-ibu lain ketika mulai terlihat malas. Sekarang mereka malah meminta materi-materi ringan sebagai pelengkap aktivitas mengaji ini,” pungkas Ibu Yuni, mengakhiri perbincangan kami.

Salah satu amal yang takkan terputus hingga saatnya kita takada lagi di dunia adalah ilmu yang bermanfaat, dan Bu Yuni telah mengambil kesempatan itu dengan gigih pantang menyerah.

Selamat harinya ibu, tak hanya di 22 Desember tapi di sepanjang waktu, di sepanjang inspirasi yang dapat terpetik dari para ibu-ibu juara.

IMG-20151225-WA0018
Ibu-ibu yang sudah sampai Al Qur’an

 

**noted: semua foto milik sirius bintang.

 

 

bandung dan long weekend

 

SAM_0205
selamat datang liburaaan

 

bismillah..

weekend empat hari memang sayang jika dihabiskan di kosan saja, tapi mau gak mau ternyata itu terjadi juga padaku.

rencana pulang hanya tinggal rencana, karena orang yang mau ditebengin gak jadi libur. apalagi memang dari awal takada rencana pulang akhir pekan ini, so enggak nyari-nyari tiket juga dari kemaren-kemaren.

long weekend di bandung? pastinya macet macet di mana-mana. sempat juga membaca laporan pandangan mata dari teman-teman di tol cipularang yang mandeg gak bergerak hingga puluhan kilo.

dan long weekend ini aku memang meniatkan berdiam di kosan untuk mengerjakan beberapa hal, meski kemaren akhirnya pergi juga nyari buku.

ke palasari yang bisa dilalui hanya dalam waktu kurang dari 10 menit tentu membebaskanku dari pemandangan macet. pun ke toga mas bubat, masih lanjtar djaya. ke gramed juga alhamdulillah lancar. hanya memang sepanjang jalan penuh sesak. pun di dalam pertokoan. rasanya malas sekali jalan-jalan pas long weekend begini.

akhirnya di gramed nemu buku pesenan juga. dan karena buku yang kucari gak ada juga di gramed, aku memutuskan jalan ke dewi sartika, tempat buku-buku second, siapa tahu di sana ada nyempil.

jangan tanya kaya apa penuhnya sepanjang jalan menuju alun-alun ituh. :d

oiya, di dewi sartika juga gak nemu. akhirnya memutuskan ngadem di masjid agung sambil nunggu langit maghrib hehe.. dan ini dia oleholeh, kukurilingan hari kemaren. 

bukubukuku
hadiah giveaway

oiya lagi, buku hadiah giveaway lomba yang ini akhirnya dateng. makasih mba Mirna atas kiriman bukunya. buku lama siy yang kupilih. biasalah, sayang tea buat beli novel, jadi mumpung gratis akhirnya milih yang lagi diskon biar dapet banyak dan tentu yang emang penasaran ceritanya dari dulu. :))

SAMSUNG CAMERA PICTURES
bonus: senja 23 desember 😀

selamat menunggu long weekend pekan depaan!

noted: lagi pemalesan banget ngedit  ><, jadi itu poto nggak ada yang mengalami barang penerangan, penggelapan atau penghalusan sedikit pun. maap kalo kurang enak dilihat heu,  

 

This slideshow requires JavaScript.