wajah indah islam di novel AAC 2

Ayatcinta

“eh, titin lagi baca AAC 2. gak banyak kisah cintanya siy, tapi gak tau deh, kamu nyinyir enggak baca novel ini.”

“kayanya nyinyir deh!”

tempo hari aku nge mesej temen bilang lagi baca AAC 2 yang tebelnya 690 halaman. entah apa sebabnya tiba-tiba aku tergerak ingin membacanya. dan entah apa sebabnya aku dengan sabar membaca lembar demi lembar tanpa tergerak membukanya dari halaman belakang.

iya, ini mungkin satu-satunya novel yang aku gak buka halaman belakang untuk liat profil penulis, endors, dan halaman terakhir cerita.

sepanjang membaca novel, aku benar-benar menyimpan rasa penasaran bagaimana akhir novel ini. aku juga berusaha sabar membaca uraian-uraian panjang kang abik tentang suatu tempat, tentang tokoh-tokoh, dan asal-usul sesuatu. sedikit susah membaca tokoh dan alur cerita karena udah benar-benar lupa bagaimana alur di AAc 1.

over all. alur cukup rapi dan gak terlalu bertele-tele menurutku. enggak nemu typo juga. dan yang bikin betah serta angkat jempol adalah, enggak ada cerita cinta ‘menye-menye’ di novel ini. baru di halaman 587 dimulai kembali kisah cinta fahri. sebelumnya, lebih banyak membahas kehidupan bermuamalah fahri sebagai dosen yang sibuk menjadi pembimbing di kampus university of edinburgh, nulis jurnal ilmiah dan ikut forum debat.

juga sebagai pengusaha muslim yang yang mempunyai butik serta minimarket di edinburgh, dan sebagai tetangga yang baik. oiya, satu lagi sebagai seorang penghafal qur’an yang setiap hari mewajibkan diri murajaah 5 juz dan membaca wirid setiap saat ada kesempatan.

iya, AAc 2 ini mengambil latar di edinburgh, sebuah kota di tanah skotlandia yang indah. diceritakan setelah menikah dengan aisha dan sempat berbulan madu di Indonesia, Fahri sempat menyelesaikan s2 nya di Pakistan. sementara aisha hilang di Palestina, fahri berkali-kali mencoba mencari tapi tak kunjung ketemu. sementara alicia, teman aisha yang berangkat bareng ke Palestina ditemukan dalam kondisi tewas. namun fahri sendiri yakin aisha masih hidup dan berharap suatu saat akan kembali.

Fahri masih tak lelah untuk mencari Aisha, istrinya. Kepergian Aisha bersama salah seorang sahabatnya ke Palestina, terus digali informasinya oleh Fahri. Sayangnya, info yang didapatkan justru mengabarkan bahwa Aisha tewas bersama rekannya itu akibat serangan tentara Israel. Jenazah rekannya berhasil diidentifikasi, sementara belum ada bukti jasad Aisha.

Di saat-saat mencari dan terus mencari informasi, ia bertemu dengan sosok Keira tetangga rumahnya di Stoneyhill Grove, dan pandai bermain biola. Caranya bermain mengingatkannya pada Aisha.

Di saat bersamaan, ia juga bertemu dengan Hulya, adik perempuan dari teman Fahri yang bernama Ozan. Hulya juga pandai bermain biola. Kolaborasi antara Heira dan Hulya, membuat Fahri seolah menyaksikan Aisha ada di dekatnya.

Tapi, Fahri tak mudah menaklukkan hati Keira yang keras. Keira bahkan menuduh Fahri dan umat Islam sebagai pembunuh ayahnya yang tewas akibat bom London. Akibat kematian ayahnya itu, cita-cita Keira untuk menjadi seorang pemain biola terkenal menemui rintangan.

Ujian tak berhenti di situ. Jason, adik Keira, juga turut mendukung sikap kakaknya yang menuduh umat Islam sebagai pelaku terorisme. Cita-citanya untuk menjadi pemain bola seperti Gary Lineker, bisa membuatnya gagal.

Karena itu, Jason mencuri sejumlah barang milik Fahri yang ada di minimarket Agnina. Namun, ia tertangkap basah oleh Fahri.

Reaksi negatif kepada Fahri, terus berlanjut. Baruch, anak tiri dari Nenek Catarina yang beragama Yahudi, selalu merongrongnya. Ia menuduh Fahri dan umat Islam sebagai kaum amalek, yakni orang-orang bodoh seperti keledai.

Fahri pun ditantang untuk berduel, baik secara fisik maupun melalui debat terbuka. Di saat bersamaan, Fahri juga harus mempersiapkan dirinya untuk melayani debat orang-orang pintar di Oxford Debating Union, sebuah forum debat terbuka yang digelar di Oxford of University.

Fahri yang memerlukan seorang pendamping untuk mengisi hari-harinya dalam balutan kasih, mendapat dukungan positif dari Syaikh Utsman, gurunya sewaktu di Mesir. Syaikh Utsman pun menawarkan cucunya yang bernama Yasmin kepada Fahri untuk diperistri.

Selain hafal Al-Qur’an, Yasmin juga cantik dan cerdas. Ia bahkan telah menyelesaikan sekolah pascasarjana. Kecantikannya, sikapnya, dan kecerdasannya membuat Fahri merindukan Aisha.

Ia pun terus mencari Aisha. Tapi ia belum menemukan keberadaannya. Di saat dirinya dan umat Islam di Edinburgh sedang bersemangat menggelorakan semangat Islam, Fahri dihadapkan pada kenyataan. Umat Islam dituding sebagai kelompok miskin dan menjadi peminta-minta. Hal itu dimuat di sejumlah harian di Inggris dan Skotlandia.

Ia pun mencari sosok pengemis miskin dengan wajah buruknya yang menjadi headline di sejumlah media setempat. Pengemis wanita bernama Sabina yang berwajah buruk dan selalu ditutupi dengan cadar itu benar-benar membuat Fahri bekerja ekstra keras untuk menunjukkan wajah Islam yang toleran, damai, dan penyayang.

Sayangnya, Sabina tak punya tanda identitas diri. Jari-jari tangannya pun melepuh akibat kebakaran kompor yang terjadi di rumah Fahri. Kondisi itu menambah sulit bagi Fahri untuk memintanya melakukan tes sidik jari. Dan ketika tangan Sabina sudah mulai membaik, ia justru pergi lagi dari rumah Fahri.

Ke mana Sabina pergi? Siapa dan dari mana dia berasal? Kenapa wajahnya yang buruk itu selalu ditutupi cadar? Akankah ia jadi menikah dengan Paman Hulusi, sopir pribadi Fahri? Bagaimana nasib Jason, akankah ia sukses menjadi pemain sepak bola ternama? Dan akankah Keira sukses memenangkan kompetisi biola di Italia?

Lalu bagaimana pula dengan Fahri? Akankah ia bertemu dengan Aisha, istrinya? Mampukah ia mengungkap jati diri Sabina? Apakah Fahri berhasil memenangkan debat di forum Oxford Debating Union?

Banyak romantisme, perjuangan, dan konflik. Fahri benar-benar tertantang untuk menunjukkan wajah Islam yang lembut, damai, penuh kasih, toleran, dan rahmatan lil alamin. Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2 ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan.

itu adalah resensi yang dimuat di sini. dan dari sekian paragraf yang diceritain di atas, aku sangat-sangat menggarisbawahi paragraf terakhir. bahwa di AAC 2 ini kang abik benar-benar ingin menampilkan wajah Islam yang indah. sehingga sepanjang membaca novel, yang terpikir tentang sosok fahri yang amat baik dan benar-benar berjuang untuk memperlihatkan Islam di negeri minoritas serta masih sangat rasis.

setiap orang tentu mempunyai insight yang berbeda ketika membaca buku. dan fahri yang haus ilmu, dengan sungguh-sungguh menjaga hafalan serta benar-benar berusaha jadi muslim yang baik sangat menginspirasiku.

kalau ada yang berkomentar dan nyinyir tentang kesempurnaan sifat, juga alur hidupnya yang beruntung, justru buatku itu enggak masalah. yang namanya doa dan harapan tentang sesuatu (baca: seorang tokoh dan jalan hidup) harus sebaik mungkin, yes? lagi ini kan fiksi, jangan baper-baper bangetlah, ahaha.. *dikeplak.

dan berkat baca novel ini, aku jadi mikir harus selalu baca buku biar pikiran gak diisi sama sampah-sampah sosmed yang bikin hati makin sempit😀. ahaha.. kebiasaan membaca menghilang dikit demi dikit dengan alasan capek. pfft.

 

 

Detail Buku:

Ukuran : 13,5 x 20,5 cm
Halaman : vi + 690 halaman
Isi : Book Paper 55 gram
Kaver : Soft Cover, Art Carton 230 gram, Spot UV, Embos
Harga : Rp 95.000,-

 

 

 

salam,
titin yang pemales sekali bikin review dan pemales akut pake huruf gede😛

 

 

 

24 thoughts on “wajah indah islam di novel AAC 2

  1. karena kebanyakan hanya melihat apa yang terlihat jadi mungkin agak sulit menerima sesuatu yang belum pernah dilihat. padahal ada banyak kemungkinan di luar sana, termasuk orang-orang yang mungkin lebih amazing berpuluh kali dari Fahri😀

    tfs Mbak Titin🙂

    Like

    • tapi entah kenapa tin ngrasa alur ini malah ngalir dan gak banyak intrik. fahri sll bisa nyelesain –seolah dengan jentikan jari.

      makanya tin gak semangat gitu ngereview, mksdnya tin bingung apa yg mau diceritain soale fokus titin lbh ke fahri yg segitunya bisa nyelesain masalah.

      makanya lagi, itu copas aja review yang drama banget ahaha..

      kata titin pas baca ngrasa gak sedrama itu deh😀

      Like

      • ini menurutku looh ya tiin. Novel2 kang abik emng bagus. Tapi tokohnya semacam “waow” banget. Apa iya dalam khidupn asli ada yg kayak gitu? as we know ini hanyalah hayalan penulis😀.. sama siiih kayak kita kalau lg bikin novel, tokok utamanya pasti oke.
        tapi..
        tapi..
        tapi…
        ah sudahlah

        makin panjang daku makin akan di pentung pake tiang listrik,hahahha

        Like

        • ahaha.. emang iya kok. selalu sempurna. dan wow dan sinetron sekali😀. dan itu jd perbincangan kami kalo lg nyinyir.

          bikin mikir, emang ada gituh di kehidupan nyata.. hihi..

          tapi pernah baca sik, apa azzam apa fahri gitu yang katanya ada😀.

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s