Membangun Generasi Juara Indonesia

Lengkong-20130408-00142covernya kereen deh ;p

Abdullah bin Masud ra, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Begitu istimewa kedudukan seorang yang berilmu, hingga Rasulullah SAW pun memperbolehkan orang lain untuk merasa iri padanya. Mengapa ilmu menjadi begitu penting? Sebab dengan ilmu manusia akan lebih mengenal Allah, dengan ilmu pula manusia belajar bersyukur atas segala kelengkapan akal dan nikmat yang tak terhitung setiap harinya. Islam begitu mengistimewakan para pencari ilmu, tak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan. Bahkan istri Rasulullah SAW, Aisyah ra dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan haus akan ilmu. Sepanjang hidupnya Aisyah berhasil menghafalkan sebanyak 2210 hadist. Selain hadist, Aisyah juga menguasai ilmu fiqh, bahasa Arab, syair juga ilmu tentang pengobatan.

Tentu bukan rahasia lagi bahwa Islam pernah mempunyai sejarah gemilang terkait dengan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang menjadi pencetus dari berbagai ilmu yang berkembang hingga saat ini. Sebut saja Al Khawarizmi, penemu logaritma, dan juga menyatakan bahwa bumi itu bulat jauh sebelum Galileo. Fakhrudin Razi, seorang ahli matematika, fisika, tabib, filsuf, dan penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern. Ibnu Rusydi, dikenal dengan nama Averoes, seorang ahli fisika, ahli bahasa, dan ahli filsafat Yunani kuno. Ibnu Sina, dikenal oleh bangsa barat dengan nama Aviciena, seorang ilmuwan dengan berbagai ilmu pengetahuan seperti ensiklopedi, kedokteran, dan psikologi. Juga Al Farabi yang merupakan ahli musik dan filsafat Yunani dengan salah satu karya besarnya yang diplagiat oleh Thomas Aquinas. Bukan hanya salah satu karya Al Farabi yang berhasil diplagiat, tetapi lebih dari itu, bahwa kemajuan pesat yang dicapai oleh bangsa barat hingga saat ini adalah berkat dari peradaban Islam yang dahulu sempat mengalami masa keemasan di daratan Eropa juga Afrika.

Ilmu hasil temuan Muslim itu juga yang kemudian banyak dipelajari di bangku sekolah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meski harus diakui, bahwa bangsa Indonesia belum selihai bangsa barat yang berhasil menyerap dan memanfaatkannya sebagai ilmu terapan yang berguna bagi kehidupan manusia. Hingga saat ini banyak warga Indonesia yang mendapat beasiswa untuk bersekolah bahkan memutuskan bekerja di sana. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia cukup baik, hanya saja perlu didukung dengan fasilitas yang memadai.

Sekilas Pendidikan Di Indonesia

Dalam Laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011, angka putus sekolah di Indonesia masih tinggi, sehingga menyebabkan peringkat Indeks Pembangunan Indonesia  rendah. Yakni, peringkat 69 dari 127 negara dalam Education Development Index. Melihat angka putus sekolah yang masih cukup tinggi di Indonesia, tentu pemerintah harus benar-benar serius untuk menangani permasalahan ini. Meskipun anggaran pendidikan pada tahun 2013 meningkat menjadi 20,01 % atau sekitar 331, 8 triliun, tetapi hal tersebut belum cukup menjadi jaminan bahwa keadaan akan serta merta berubah.

Menurut Mae Chu Chang, Spesialis Pendidikan Bank Dunia untuk Indonesia, di atas kertas anggaran pendidikan secara nasional dan per daerah melonjak tajam, namun dibandingkan sebelumnya, besarnya anggaran itu sebenarnya tak jauh berbeda persentasenya. “Anggaran yang dibutuhkan untuk membayar gaji guru meningkat tajam seiring dengan meningkatnya jumlah guru secara keseluruhan, dan jumlah ini terus meningkat meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan rasio siswa guru paling rendah di dunia.” Jelas Mae dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, bekerjasama dengan Bank Dunia dengan tema “Kemana Arah Politik Pendidikan Nasional dengan Anggaran yang Terus Meningkat?” (tribun.com)

Hingga saat ini solusi konkrit yang ditawarkan pemerintah terkait pendidikan ini memang belum sempurna. Meski gratis untuk biaya SPP SD dan SMP namun biaya masuk dan biaya pembangunan yang mahal membuat masyarakat pada umumnya mengeluhkan kondisi tersebut. Padahal SDM yang berkualitas sebagai modal pembangunan suatu bangsa dihasilkan dari pendidikan yang juga berkualitas. Program Wajib Belajar 9 tahun yang selama ini digulirkan ternyata belum terukur keberhasilannya, mengingat banyak daerah terpencil di Indonesia yang jauh dari fasilitas pendidikan yang memadai serta angka putus sekolah yang cukup tinggi tersebut.

Kontribusi Untuk Negeri

Dahulu peradaban Islam pernah berjaya dengan ilmuwan dan segala kontribusinya untuk umat hingga sekarang, maka sudah seharusnya umat muslim hari ini juga peduli dengan dunia pendidikan. Bukankah berkecimpung di dunia pendidikan tak harus menjadi seorang guru? Jika di Eropa rata-rata biaya pendidikan gratis dari TK hingga sarjana, di Indonesia Bantuan Operasional Siswa baru bisa membebaskan biaya SPP dari SD hingga tingkat SMP. Bentuk Negara Indonesia yang berpulau-pulau juga menimbulkan permasalahan tersendiri. Masyarakat yang tinggal di pulau terpencil belum bisa menikmati fasilitas pendidikan layaknya masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Tentunya pemerintah Indonesia harus bisa bijak menyikapi kondisi ini, sehingga tidak terjadi kepincangan sosial yang berkepanjangan.

Berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk angka melek huruf tahun 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Sementara pada tahun 2011 Indonesia menempati posisi 124 dari 187 negara. Selain angka putus sekolah yang cukup tinggi, angka yang didapat dari data di atas juga cukup memprihatinkan.

Angka melek huruf tersebut tentu dipengaruhi juga oleh pendidikan yang diterima oleh masyarakat. Karena pada kenyataannya memang masih banyak masyarakat yang belum mendapat pendidikan layak. Mulai kesempatan untuk bersekolah maupun minimnya fasilitas pendidikan yang didapatkan. Untuk masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan tentu kesempatan mendapat segala fasilitas pendidikan terbilang mudah, tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berada di daerah-daerah terpencil?

Menurut Nani Nurhasanah, seorang Pengajar Muda yang mengikuti program Indonesia Mengajar dan ditempatkan di Oi Marai, Bima, Nusa Tenggara Barat sebenarnya potensi kecerdasan anak-anak di daerah terpencil tak kalah dengan anak yang tinggal di perkotaan, hanya saja minimnya fasilitas dan sedikitnya masyarakat yang cukup peduli dengan pendidikan membuat anak usia kelas IV SD masih saja ada yang belum lancar membaca. “Di Oi Marai ini hanya ada satu SD, sehingga untuk melanjutkan ke SMP harus pergi ke kota yang jaraknya bisa belasan kilometer,” ujar Nani. 

Senada dengan Nani, Riska, seorang relawan Rumah Zakat yang menjadi perwakilan dalam Sail Morotai 2012 lalu juga menuturkan, bahwa fasilitas pendidikan di pulau-pulau terpencil yang sempat dikunjunginya sangat minim. Jika mau melanjutkan ke SMP atau SMU, maka penduduk di pulau Balabalakang harus meyeberang ke pulau lain dan kost di sana. Anak-anak di sepanjang pulau terpencil ternyata sangat memerlukan buku bacaan dan Al Qur’an atau Irqa untuk belajar mengaji. Buku-buku yang ada di madrasah atau sekolah kondisinya sudah memprihatinkan.

“Tapi anak-anak yang sempat kami temui di sini semangat belajarnya cukup tinggi. Meski tampak malu-malu, tapi mereka antusias sekali ketika kami membacakan dongeng maupun membawakan buku bacaan untuk mereka, mereka cerdas dan ceria, tak terbebani dengan segala kondisi lingkungan yang minim dari segala fasilitas teknologi layaknya tinggal di kota,” lanjutnya.

Membangun Generasi Juara

Banyak cara agar dapat berkontribusi untuk lingkungan atau bahkan untuk Indonesia. Rumah Zakat, sebuah NGO yang bergerak di bidang sosial menggulirkan program beasiswa ceria, yaitu beasiswa yang diberikan kepada anak asuh di seluruh Indonesia, agar mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih layak, baik itu di tingkat SD, SMP maupun perguruan tinggi. Bukan hanya dibiayai sekolah, namun anak asuh Rumah Zakat juga selalu mendapat pendampingan dari para mentor untuk sekedar sharing dan berbagi ilmu dua pekan sekali.

Selain beasiswa, Rumah Zakat juga mempunyai Sekolah Juara, yaitu sekolah gratis berkualitas yang diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu. Dengan metode Multiple Intelligences, Sekolah Juara ingin mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki oleh siswanya. Anak-anak yang bersekolah di SD maupun SMP Juara terus didorong untuk mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki, sehingga tak jarang mereka dapat memperoleh juara di berbagai ajang lomba yang diadakan di luar sekolah.

Dalam membangun generasi juara memang tidak bisa instan, dibutuhkan keterlibatan banyak pihak di sana. Pembangunan sekolah gratis berkualitas seperti yang dilakukan oleh Rumah Zakat bisa menjadi salah satu solusi saat ini. Hanya keberlangsungannya juga masih bergantung kepada kepedulian masyarakat atau lembaga yang mampu berdonasi. Untuk kemudian masyarakat bisa turut mengukur sejauh mana kualitas juara yang dihasilkan dari sana. Sehingga generasi yang ada merupakan produk kerja bersama dari berbagai pihak, untuk Indonesia tercinta.

 

**jurnal ini dimuat di majalah Rumah Lentera RZ, edisi April 2013. bagi yang ingin mempunyai adik asuh atau ingin berkontribusi di Sekolah Juara bisa klik web RZ aja ^^

**Hingga Januari 2014, RZ telah memberikan pendidikan berkualitas kepada 19.924 anak yatim dan dhuafa 14 SD-SMK di 12 kota di Indonesia. Konsep kelas yang diusung Sekolah Juara sejak 2007 adalah kelas kecil dengan siswa 25 orang per kelas. Selama 2013, sebanyak 294 prestasi tingkat kabupaten hingga nasional telah berhasil diraih oleh siswa-siswi SD, SMP maupun SMK Juara.

***Sekolah Juara kembali membuka pendaftaran untuk siswa baru tahun ajaran 2014/2015 dari tanggal 3 Februari hingga 14 Maret 2014.

 

 Soeta 550, 7/2/14

16 thoughts on “Membangun Generasi Juara Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s