di antara sepi

Kamu pernah ngrasa kesepian ga?

Sering. Terlampau sering, sampai aku takbisa mendefinisikan ramai itu yang bagaimana? Apa ketika di rumah ada walimahan lengkap dengan segala suara musiknya? Aku tak yakin, kau takbisa merasa kesepian karenanya.

Terus? Apa yang kau lakukan ketika sepi?

Entahlah. Mungkin ini duniaku. Rumah yang Allah kasih untukku, aku tak hendak berontak atasnya. Karena aku sendiri merasa kesulitan membangkitkan ‘rame’ itu di hati. Akupun bukan tak bersyukur atas apa yang lekat pada diriku. Jalani saja. tersenyumlah karenanya. Sejatinya itu yang kau butuhkan.

Kamu kenapa?

Nggak ada apa-apa. Hanya saja aku merasa hidupku terlalu rame, kadang. Tapi tidak dengan hatiku. Kau masih inget tentang lagu letto Sebelum Cahaya di lirik “perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatkanlah hati, cinta..” aku masih merasa lirik itu khusus di tujukan untukku. Ahaha..

Dan kau masih berharap akan seseorang ntah siapa itu yang mengucapkannnya untukmu?

Ahaha! Masih ingat aja kau. ;p

Terus, yang kau bilang rame?

Iyah, mungkin nggak ada orang yang ngelihat aku sepi. Seperti yang kau lihat, senyum sana sini. Janjian sana sini. Sms sana sini. Tapi mungkin yang tak kau sadar adalah, aku memang mengundang mereka masuk ke dalam hidupku. Aku sms hampir tiap hari, sejatinya itu penguatan untuk diriku. Untuk hatiku. Bahkan ketika sms itu hanya berisi salam, aku ingin orang yang menerimanya membalas salamku. Sehingga aku bisa mencuri doa dari mereka. Aku ingin meriuhkan hidupku dengan doa-doa dari teman-teman teristimewaku. Aku ingin mencuri doadoa mereka.

Kau mendoakan mereka?

Iyah. Seingatku.

Selalu?

Aku mengabsen satusatu. Orang yang kukenal langsung atau tidak. Kalo aku ingat, aku sebut namanya. Dan tentunya dengan sederet penghuni tetap doaku tiap hari.

Kenapa?

Aku merasa sepi. Aku merasa sendiri. Sehingga aku hidupkan hariku dengan memanggil mereka dalam doa-doaku. Aku jadi ngrasa deket sama mereka. Selain yang utamanya berharap dengan sangat doa yang sama juga di aamiinkan untukku.

Itu rahasiamu banyak teman?

Nggak jugaa. Hanya saja, doa senjata paling ampuh bukan? Jadi ketika kita takbisa banyak berbuat hal yang keren keren buat mereka, ya minimal kita mengingatnya dalam doa. Aku kan suka ngobrol, nggak kaya kamuu

Duniaku adalah rumah dan tempat kerja. Huruf-huruf dalam naskah yang berkejaran dengan hari-hariku. Dan aku harus mencukupkan diri untuk merasa rame karenanya. Yang jelas, Allah udah banyak ngasih hadiah buatku. Kesendirianku hingga umur segini, ibu yang luar biasa dan kepercayaan kedua orang tuaku melepasku hingga sejauh ini.

Kau nggak pengen lebih deket dengan ibumu?

Pengen. Menyenangkan mendapati dua ponakan yang lucu, dan dimasakin ibu tiap hari. Tapi aku merasa aku makin kuat ada di sini. Aku merasa kuat dengan ‘sepi’ ini.

Heei, udah sore. Baliik aah..

Curaang! Lagi serius juga. Daaaaagh.

Assalamualaikum

Waalaikumsalam

soeta 550, 12/2/13

**cat: ini repost dari lapak sebelah. bagi yang udah baca maap eeaaa. selamat hari senin kembalii ^^

One thought on “di antara sepi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s