[beranda Maret] –maaf

Suatu hari Umar kedatangan kakak beradik yang melaporkan seorang pemuda karena telah membunuh ayah mereka. Mereka meminta qishash sebagai bentuk keadilan atas perbuatan pemuda tersebut. Pemuda itu hanya tertunduk penuh sesal mengakui perbuatannya di depan Sang Khalifah. Akan tetapi kedua kakak beradik tersebut bersikeras untuk tetap melanjutkan qishash. “Maaf wahai Amirul Mukminin, kami sangat menyayangi ayah kami.” Potong kedua pemuda dengan mata merah antara sedih dan marah .“

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab kehabisan akal meyakinkan penggugat.

“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakan qishash atasku. Aku ridha pada ketentuan Allah, hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah yang tertanggung dulu.” Sang Pemuda berkata dengan tegar dan sopan. Dia berjanji akan kembali dalam waktu tiga hari. Namun kedua kakak beradik dan juga Umar belum bisa mengijinkan pemuda itu pergi. Harus ada jaminan yang jelas atasnya.

“Jadikan aku penjaminnya Amirul Mukminin!” sebuah suara berat dan berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Salman Al Farisi.

“Salman?” hardik Umar.

“Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”

“Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar, aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya.” ujar Salman.

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman. Tiga hari berlalu sudah.

Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan Salman. Mentari nyaris terbenam. Salman dengan tentang dan tawakal melangkah ke tempat Qishash. Isak pilu tertahan.Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit dan nyaris merangkak. Pemuda itu dengan tubuh berpeluh dan nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar.

“Maafkan aku hampir terlambat!” ujarnya.

“Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”

“Demi Allah, bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?” ujar Umar sambil menenangkan dan memberinya minum.

“Supaya jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.” ujar terdakwa itu sambil tersenyum.

“Lalu kau Salman, mengapa kau mau menjadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama sekali?”  ujar Umar berkaca-kaca, “

“Agar jangan sampai dikatakan di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara,” jawab Salman teguh.

“Allahu Akbar! Allah dan kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya.” Pekik sang penggugat sambil memeluk terdakwa.

“Mengapa kalian berbuat seperti itu?” Tanya Umar haru

“Agar jangan ada yang merasa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan dan kasih sayang,” sahut keduanya masih terisak.“

 

Maha Suci Allah, begitu indah ajaran Islam. Di sana ada ukhuwah yang memancar indah. Di sana ada pemimpin yang tegas dan mau mendengarkan. Di sana ada hukum yang adil untuk ditegakkan. Di sana ada kasih sayang dan kelembutan. Di sana ada kelapangan dan kemaafan.

Dan seperti kata sebuah petuah bijak, bahwa memafkan memang tidak akan bisa mengubah masa lalu, tapi ia akan mengubah masa depan.

Rumah Lentera, Maret 2013

8 thoughts on “[beranda Maret] –maaf

  1. *nate tanya ke bang hendra tentang keshahihan kisah ini..
    ga ada riwayat kuat mba.. ga ada dasar valid sanad kisah ini..
    secara matan juga ngganjel.. ga valid..
    wallahu a’lam..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s