(beranda januari) Belajar Dari Nabi Yunus

Hari itu Nabi Yunus marah. Ia pergi meninggalkan kaumnya, padahal Allah menugaskan ke sana. Jibril menyuruh Yunus segera berangkat ke penduduk Ninawa, di wilayah Mosul atau Irak sekarang. Para penduduk itu menyembah berhala, sehingga adzab Allah akan diturunkan. Yunus diperintahkan untuk mengingatkan para penduduk itu lalu mengajak kembali ke jalan yang lurus.

Yunus meminta sejenak mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tidak mengijinkan, “Urusannya lebih penting dari itu,” kata Jibril. Lalu Yunus meminta ijin untuk mencari sandalnya. Jibril tetap menolak. “Perkaranya sangat mendesak,” jelas Jibril. Maka Yunus pun marah, ia malah pergi menaiki kapal.

Namun kapal itu kemudian ditimpa badai topan yang sangat kencang. Orang-orang berkata, “Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kalian.”

Yunus pun menunjuk diri, menyatakan bahwa dirinyalah yang salah. “Ini kesalahanku, lemparkanlah aku ke laut.” Tetapi entah mengapa orang-orang tidak percaya begitu saja, mungkin karena Yunus orang terpandang. Angin terus bertiup kencang, kapal nyaris tenggelam. Yunus sekali lagi menyatakan, dirinyalah yang berbuat kesalahan, sehingga layak dilempar ke laut agar menyelesaikan permasalahan. Tetapi orang-orang masih tetap tidak mau. Sampai akhirnya mereka membuat undian. Siapa yang keluar namanya, dialah yang akan dilempar ke laut.

Kali pertama undian, Yunuslah yang keluar namanya. Dicoba lagi, Yunus lagi yang keluar. Untuk ketiga kalinya mereka mencoba, dan nama yang keluar masih juga Yunus. Akhirnya Yunus pun dibawa ke tepian kapal. Saat itu seekor ikan besar telah siap menelan. Mulutnya terbuka lebar dan Yunus pun melompat menceburkan diri. Seketika iapun ditelan ikan besar tersebut. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh pengakuan akan kesalahan, sebelum kemudian Allah mengampuninya dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Begitu banyak riwayat yang menjelaskan kisah Nabi Yunus. Tetapi satu hal yang patut digaris bawahi di sini; bahwa ia telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mengakui kesalahan. Meskipun kesalahan itu tersembunyi sebab tidak ada orang lain yang mengetahuinya, atau bahkan orang lain itu membela kita.

Dalam hidup ini, ada rahasia yang sangat pribadi dari setiap diri. Namun hanya orang-orang berjiwa besar yang berani jujur pada dirinya dan tentunya pada Allah. Mengakui segenap kesalahannya, menyadarinya serta bersegera memohon ampun pada Allah. Sebab perasaan bersalah itulah yang menjadi pintu pertama untuk memperbaiki diri. Seperti halnya doa nabi Yunus saat ia berada dalam perut ikan; “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang dzalim.”

Sumber: tarbawi

dari sini ^^

9 thoughts on “(beranda januari) Belajar Dari Nabi Yunus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s