random

hujan seharian di kota ini. Libur yang takseperti biasa. hari jumat dan diteruskan sabtu ahad. tak ada hangatnya coklat atau kopi. hanya laptop yang berkedap kedip ditinggal sang empunya.

“banyak yang taksedang ingin dipikirkan,” katamu.

ya, ya mungkin saja begitu.

“lagi gak pengen sendirian, sori banyak nyampah aksara di monitormu.”

“ahaha! udah biasa. akan lebih aneh ngliat kau diem. gakbuka hape berhari hari. dan bisa gak makan sampe dua hari. Dengan alasan gak laper. Err.. dasar aneh”

“;p”

“akan lebih aneh mendapatimu gak ribut, pamer ini itu, lagi jalan di sini, di sana. sebab aku tau, kau gak akan melakukannya di depan orang lain. dasar introvert akut.”

“-,-“

“hapemu masih mode silent tanpa getar kan, dari bertahun lalu? Dan membuatku harus ekstra sabar meneleponmu. Dan kau akan dengan ‘halusnya’ bilang.. ‘maaf ga kedengeran’. yaeyalaah silent tanpa getar mana bisa kedengeran?”

“;p”

“kau curang, selalu tampak baik di depan orang, tapi tidak di depanku. ;p”

“begitu guna temen.”

“huuu—“

“kau tau, hal yang paling menyedihkan dalam hidup?”

“mengasihani diri sendiri.”

“takbisa bercerita, kehilangan atau bahkan takpernah punya tempat cerita. selain pada Allah tentu.”

“merasa hidup sendiri. sepi.”

“tak sadar kalau ia sedang berjalan kearah yang salah. ato bahkan sadar tapi ia nekad menerobosnya.”

“lupa untuk siapa hidup, lupa akan ridho yang seharusnya jadi hal utama.”

“tertipu oleh diri sendiri.”

“uhm? menipu diri sendiri maksudnya?”

“ya ya, semacam itu.”

“bukankah kau bilang sedih dan bahagia itu pilihan? kau bisa sedih kapan saja dan bahagia kapan kau mau?”

“tetap saja kita manusia, yang dalam proses menjatuhkan pilihan tentang sedih dan bahagia juga perlu proses. ada hal-hal yang tak dapat tertolak. tentang berita kesedihan, tentang luka, dan duka yang mengundang air mata.”

“setauku kau jarang mengambil pilihan untuk bersedih..”

“terkadang aku melakukannya. sekadar merasai iba terhadap diri.”

“tujuannya?”

“entah. hanya ingin menangis saja. dengan begitu aku bisa bergegas tersenyum.”

“setauku kau bahkan suka sok gak sakit hati terhadap apapun itu. ekspresi yang terlambat, itu yang selalu kau bilang.”

“haha.. sakit tetap saja. cuma aku melawannya justru dengan mendekati sumber sakitnya.”

“seperti kau yang sengaja berbaik-baik sms padanya? berkunjung ke rumahnya dengan muka paling manis? ”

 “;p. aku sayang padanya. setulus hati mendoakannya. dan berusaha menatap wajahnya, hingga sakit itu gak akan kerasa lagi”

“naif.”

“udah sejak dulu kalee, ;p”

“belum makan dari pagi, dan sekarang masih nunggu laper.”

“berarti kau lagi kumat beneran. ckckck.. udah lebih dari jam lapan inih.”

“ahaha.. iyakah?”

“hw.. dasar.”

“syukur adalah perspektif. selalu ada rasa ‘ingin’ saat melihat orang lain lebih menurut mata kita. padahal masingmasing memikul beban sesuai pundaknya. takkurang, taklebih. maka kesyukuran adalah perpektif yang harus senantiasa terpelihara kebeningannya.”

“setuju banget. mengingat kelimpahan yang diberikanNya pada kita dan banyak orang takseberuntung kita.”

18 thoughts on “random

  1. jadi inget obrolan sama Dinti. “Matematika itu nggak pernah sadar kalo kita lagi nggak mau mikir!” kataku. Dinti langsung bilang, “Nggak mau berpikir berat, maksudnya.” *bukan penyuka matematika*

    #GagalPaham

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s