setahun lalu

Mata ini udah berkaca aja, sms-an  sama temen yang terdiagnosis kanker. Bulan bulan lalu, dia masih sms; “mohon doanya.. semoga hasil lab nya bagus. Sedang berusaha ikhtiar dan terus tawakal.”

Hingga kemudian aku diberitahu hasil lab sudah keluar dan positif kanker kelenjar ludah. Ternyata benjolan itu bukan hanya tumor, setelah berkali kali di operasi dan benjolan deket telinga tersebut masih saja tumbuh. Sungguh takterbayang rasanya, setelah setahun aku sendiri berhadapan dengan pasien kanker. Bedanya, aku sama sekali tak boleh terlihat sedih dulu. Sehingga otak ini sudah tersetting; “ah biasa ajah kanker juga. Semua mudah buat Allah. Apapun itu.”

Tapi mendapati seorang sahabat yang tengah bergelut dengan penyakit itu membuatku malah mati gaya. Ikut sedih, dan gaktau harus berkata apa, gimana?

“Sedang berusaha terus ikhtiar dan tawakal. Masih 19 kali lagi radiotherapy. Smangaaaat! Doakan aku ya, Tin.” Tulisnya di sms lagi.

Tentu saja dukungan sangatlah penting, akutau banget rasanya. Betapa berharganya ditanya kabar, saat kondisi seperti itu. Kehadiran teman, saudara, sahabat yang sms, telp bahkan saat ada teman tergopoh-gopoh datang dari Jakarta, dari Bandung dan ikut mabit di RS sangat terasa memompakan semangat untuk pasien. Jadi inget peristiwa hampir satu setengah tahun lalu, yang masih berasa seperti kemarin..

***

1 november 2011 aku membuat jurnal di sini, waktu masih di Mp tentunya. Dan sampai sekarang aku belum pernah bercerita tentang detail Bapak. Karena aku juga berusaha bercerita hal yang menyenangkan, hal yang memberatiku males aku urai. Sampai sekarang masih ada gelang operasi Bapak, bekas-bekas resep. Bahkan ada satu surat rujukan yang takpernah kuurus dan akhirnya Bapak gak kontrol ke Dokter tersebut. Ada satu obat yang membuatku dimarahi Ibu gegara akulupa membawakannya ke Rumah Sakit. Aku masih simpan. Entah, hanya ingin mengingatnya saja.

Dulu, saat paling nyaman dan menyenangkan bagiku adalah jalanan. Naik motor kencengkenceng sambil berpikir leluasa tentang semua. tentang Bapak, aku, dan rencana-rencana ke depan. Karena sampai di rumah pasti banyak hal yang musti dilakukan. Selama lebih setahun hidup nomaden. rumah – rumahsakit – balaipengobatan. Hampir 24 jam memakai jilbab terus-terusan, dengan waktu tidur taktentu. Oya, saat saat itu aku berasa jadi orang kaya, yang mudah saja mengeluarkan sejumlah uang. Di tas selalu ada uang dengan jumlah tak sedikit, tinggal di ruangan keren pula.😀 *tapi sumpah, gakmau sekali kali lagi, meski sekeren apapun itu ruangannya -.-‘

Ah, Allah sungguh baik. Tarbiyah yang diberikannya takpernah salah. Semoga sakit Bapak benarbenar menjadi penggugur dosanya. Dan yang terpenting lagi, smoga kami –anakanaknya bisa menjadi jariyah untuknya. Allah, terima kasihku.. untuk segala sayang. untuk membuat kami makin kuat dan kuat lagi :’)

soeta 550, 1/11/12

3 thoughts on “setahun lalu

  1. Aamiin Ya Robb.
    Saya punya teman yg sudah divonis tak akan lama lagi hidupnya, Semua profesor sudah angkat tangan, tp jika Allah SWT bwrkehendak lain, maka tidak ada yg mampu merubahnya, teman saya sehat kembali sampai sekarang inshaAllah, meskipun hrs berjuang bertahun2, melawan kanker kandungan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s