**masih tentang ayah



Matahari sore selalu indah di sini. Bulat penuh, seperti kuning telor. Yang berbeda hanya warnanya. Aku tak bisa mem-visualisasikannya dengan pas, tapi yang jelas ia seperti bola oranye. Tersemat di kaki langit sebelah barat. Di antara genteng kemerahan dan bangunan gedung yang tak terlalu tinggi. Di antara kabel-kabel listrik yang tak beraturan jua pucuk daun yang bergoyang perlahan.

Sayang kau tak bisa melihatnya. Aku menatap matamu yang kecoklatan. Kau tersenyum, tepatnya memaksakan senyum. Bibirmu yang kering tampak pecah-pecah akibat angin musim dingin. Tangan keriputmu gemetar, kisut termakan waktu. Diluar paviliun, deru hujan menyamarkan perbincangan kita.

“Pergilah,�? bisikmu.

“Pulanglah kepada bait-bait yang merindukan jemarimu. Kembalilah kepada alam yang selalu bijak mengurai petuah tentang segala jejak.�?

Aku terdiam. Darahku terasa lebih cepat mengalir. Ada yang manghangat di kedua mata. Kemudian pecah menjadi bebulir bening mengaliri pipi. Bibir ini tak henti mengulum senyum, memandangnya takzim. Entah berapa kubik sabar yang aku curi darinya, dan itu masih saja terasa kurang.

“Genggamlah Tuhan dimanapun kau jejakkan kaki. Ia sepenuhnya ada untukmu. Ia memberikan seutuh kebaikan yang bahkan sering kau abaikan, Ia ingin kau lebih mulia dengan segala skenario menyenangkan maupun yang kau anggap memilukan.�?

“Jagalah kehormatanmu, kehormatan agamamu.�?

Terduduk. Kepalaku merunduk. Membenamkan rentetan kata itu kedalam palung hati. Memahatnya agar ia selamanya menjadi graviti. Berjanji, akan sebaik-baik mengejawantahkan kata yang memang seharusnya.

“aku mencintaimu, kini dan nanti. Di sini, di sana, hingga berkumpulnya kita di surga.�?

aamiin

Pav. Wijayakusuma 15.25
Jogja, 11.09.11


Tulisan itu aku buat di Paviliun Wijayakusuma, hunian terakhirnya di Jogja sebelum beberapa hari kemudian dibawa pulang ke rumah akibat kondisi Bapak yang makin parah. Bahkan dokterpun sudah menyuruh kami pasrah dan mempersiapkan hal terbaik untuk mengantarnya menuju “kepulangan.�? Ah, rasanya tak terima dengan segala vonis yang disampaikan dokter. Meski pada akhirnya aku dan segenap keluarga semakin menyadari, bahwa kanker ganas yang menggerogoti tubuh Bapak hampir setahun ini semakin susah di ajak kompromi. Kompromi dengan kanker? Andai itu bisa dilakukan.
Aku hanya berusaha menerjemahkan jeda yang tercipta di antara kami. Saat aku berpamitan untuk kembali ke Bandung dan bekerja. Sebelumnya Bapak sempat berkata, “Sudah saatnya kamu bekerja, setelah selama ini merawat Bapak. Tetap semangat, yang rajin, yah..�?

Bapak, sosok yang bahkan sampai sekarang masih kurasa hadirnya, meski hampir enam bulan tak lagi bersanding raga. Sosok yang aku hanya sanggup mengingat segala kebaikannya, segala sabarnya, segala ketegarannya. Sosok yang aku tak bisa merasakan kehilangan atasnya, seolah ia masih ada. Tersenyum dan selalu memberi support kepadaku.

“Gara-gara aku, semua jadi repot..�?

Aku masih ingat betul kalimat yang di ucapkannya saat perjalanan ke Jogja menjelang operasi terakhir kali. Sungguh, tak ada perasaan repot dari kami sebagai anak dan segenap keluarga. Bapak adalah seorang laki-laki matahari. Tak pernah habis senyum dan supportnya untuk kami. Kesabarannya yang luar biasa membuat ia tak kelihatan seperti orang sakit kebanyakan. Wajahnya tetap segar, candanya tak berubah. Bahkan sebagai seorang penyandang kanker, ia termasuk jarang merasa kesakitan, padahal kanker yang dideritanya adalah kanker ganas.

“Kok bapak kena kanker ya, Tin? Itu kan penyakit yang menakutkan, nggak pernah kebayang sebelumnya..�? suatu kali Bapak pernah berkata demikian. Ada jeri yang kurasa dibalik kalimatnya. Tapi aku hanya tersenyum. dengan tenang aku berkata, “Karena tidak semua orang sekuat Bapak, bahkan Bapak sama sekali tidak perlu dikasihani. Bapak orang pilihan.�?

“Jadi masih bisa sembuh, Tin?�?

“Masih, dan selalu ada kemungkinan. Segalanya mudah bagi Allah, bukan?�?

Aku memang terbiasa ngobrol apapun dengan Bapak. Dan ia akan dengan mudah menerima apa yang aku -kami, anak-anaknya- katakan, meski kadang terasa menggurui. Berkali-kali Bapak bertanya demikian. Aku tahu terkadang nyali Bapak ciut juga mengingat penyakitnya, tapi hal tersebut justru semakin membuatnya giat untuk berobat.

Semangatnya membuat kami harus mengeringkan air mata yang seringkali mengaliri pipi. Aku serta kakak dan adikku bahkan berkomitmen untuk tak sekalipun menangis di depan Bapak. Kami hanya tak ingin Bapak sedih karena menganggap diri menjadi sumber penyebab kesedihan kami, kami hanya ingin memberikan hal paling baik disaat Bapak berada pada saat-saat sulit. Saat pertama kali vonis kanker ganas dijatuhkan, aku dan keluarga sudah mempersiapkan semua. Ada beberapa dokter yang memang sudah menyerahkan kepada keluarga. Tapi bagaimanapun, aku terutama yang bertugas menunggunya selama sakit harus senantiasa tersenyum dan menyampaikan semuanya dengan ketenangan.

Berawal dari sakit punggung yang tak berkesudahan. Bapak akhirnya masuk Rumah sakit swasta di kota kecil kami. Saat itu Bapak hanya didiagnosis syaraf kejepit biasa. Namun stelah 3 bulan terapi, kondisi Bapak tidak menjadi lebih baik. Pinggang Bapak makin sakit dan hasil ronsen terakhir menunjukkan syaraf kejepit akibat patah tulang sehingga harus dirujuk ke Jogja untuk operasi. Sungguh, saat itu dunia terasa gelap, kakiku terasa melayang dan nafas sesak tiba-tiba. Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi yang jelas aku mulai ketakutan membayangkan kondisi Bapak.
Sebulan lebih di Rumah Sakit tak pernah menjadi beban untuk Bapak. Banyaknya empati yang mengalir dari saudara merupakan rizki tersendiri yang membuat kami tak lelah untuk tersenyum, bersyukur atas segala kebaikanNya yang terulur melalui tangan-tangan saudara. Sungguh, uang puluhan juta yang di gunakan untuk 3 kali operasi dalam jangka waktu sebulan begitu mudah terkumpul. Aku yang tak jeda menunggunya di Rumah Sakit menjadi saksi betapa ia adalah laki-laki yang gigih dan sabar. Pelan-pelan aku sampaikan perihal penyakitnya. Tak langsung menyebutnya sebagai kanker prostat ganas, aku hanya menyampaikan tindakan-tindakan yang akan diambil dokter untuk mengangkat penyakitnya. Bapak menurut, bahkan tak sabar menunggu waktu operasi. Ingin segera terbebas dari segala penyakit yang ada.

Hal yang selalu kucatat, tak sekalipun keluhan keluar dari mulutnya ketika rasa sakit itu mulai menghampiri. Hanya nama-nama Allah yang bergantian ia sebut. Doa nabi Yunus saat ada di dalam perut ikan senantiasa ia lantunkan, doa kesembuhan juga tak ketinggalan. Bahkan saat kami memutar muratal, bapak menolaknya. Ia hanya ingin mendengar tilawah dari mulut kami langsung, anak-anaknya.

Tepat setahun Bapak mengalami proses pengguguran dosa, semoga. Sebelum kemudian benar-benar menutup mata pada 29 Oktober lalu. Aku merasa biasa saja, mungkin karena pengaruh “warning�? dokter tentang Bapak atau entahlah. Tapi yang jelas aku merasa Bapak tidak pernah pergi kemana-mana. Aku hanya menggigit bibir saat melihat jenazahnya di pindah ke keranda, meneteskan air mata untuk terakhir kalinya di depannya. Ya, saat ia sudah tak bisa melihatku. Mendoakannya dengan sangat, semoga segala kebaikan mengiringinya dan membuat terang rumahnya di sana.

“Tin, kenapa ibu nangis?�?
“Ibu sedih karena Bapak nggak mau makan.�?
“Ya udah tolong suapin bapak, Tin. Pelan-pelan takut muntah.�?
“Bu, udah jangan nangis lagi, ini Bapak mau makan ko.�?

Lain hari

“Kamu kenapa nangis?�? Kakak hanya terdiam sembari melihat makanan yang masih utuh.
“Bapak harus gimana lagi? Dari tadi kan udah di oba makan, tapi muntah terus. Udah yah, jangan nangis, ini Bapak coba lagi.�?


“Rabbighfirli walli wallidayya warhamhuma kamaa rabbayani shoghiro..�?


****

di pelukan senja kau bisu melayangkan senyum ke angkasa. di pelataran malam kau -mungkin aku juga kamu- berpeluh mengejang menyambut rindu Sang Mahasatu.
di lapuk ranjang kau telah membebat tenang. lalu dimana entah aku dan kamu kan meregang.

(kangen, 1/4/12)




*****

itu adalah naskah untuk qultumedia beberapa waktu lalu yang alhamdulillah jadi naskah pilihan. ^^ hmm.. ngerasa gak optimal siy, scara baru kirim tulisan jam 00 kurang pas detlen. trs juga kalimat typo lah.. asa aneh.. dan ambil sana sini dari blog.

tapi, asa lebar ajah kalo aku gak ikuitan, sementara banyak punya cerita tentang ayah ;d. but Alhamdulillah, Allah Mahabaik ^^.

Dan ini dia bingkisan dr qultumedia yang dateng ntah kapan udah lupa, hehe.. sertifikat yang robek akibat gak ngeh di dalamnya ada sertifikatnya. alhasil ku sobek ajah tuh amplop. dan buku yang sampe sekarang masih tersampul rapi -.- (Jangan Lukai Ibumu, Bagaimana Cara Melobi Tuhan sama The Scient Of Shalat). maksiiih qultumedia.. ^^

soeta, 2/7/12

47 thoughts on “**masih tentang ayah

  1. jampang said: hiks….. sedih…*btw tulisan ini terus dikemanain sama panitia yah…. penasaran

    semoga dilapangkan kubur alm.bapaknya Mbak Tin…dan berkumpul dengan orang-orang sholeh di surgaNya kelak…

    Like

  2. akuai said: barakallah, teh. kisahnya menyentuh sekali.. aku juga ikut lomba itu. tapi gak lolos. hehe…

    kalo inget ini teh,,, aku suka kepikiran, kalau aku pergi suatu hari nanti, kamu bakal kehilangan aku gak ya?atau kalau ayah harus pergi, ada yang nemenin aku ke Denpasar gak ya? *pikiran liarku beberapa hari lalu T-T

    Like

  3. langitshabrina said: kalo inget ini teh,,, aku suka kepikiran, kalau aku pergi suatu hari nanti, kamu bakal kehilangan aku gak ya?atau kalau ayah harus pergi, ada yang nemenin aku ke Denpasar gak ya? *pikiran liarku beberapa hari lalu T-T

    hw.. adamu aja sering kucari -.-aku harus sampai denpasar,🙂

    Like

  4. titintitan said: wuuuiiii…… badhe teng bogor? kalih jam tiga jam, Mba..hayuuu mampir mbandung ;d

    ketoke ga bisa….. hoaa… nek mampir2 sejauh itu.. wekeke..lha ikut rombongan.. hihihihuum besok sabtu ahad ting bogor mba.. =D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s