[karena perjalanan adalah teman] tentang rasa memiliki


Dalam sebuah forum aku ditanya, “Apa yang membuatmu lelah??

Ya, karena setiap kita pernah merasakan lelah. Meski dengan berbagai sudut pandang ia bisa ditengarai, namun mau tak mau ia berpangkal pada panglima dari jasad dan jiwa kita: hati. Saat itu beragam jawaban dilontarkan anggota forum. Dan pada giliranku, aku memilih menjawab, “Saat merasa belum memiliki atas apa yang ada di depan mata, atas apa yang Allah amanahkan untukku, Teh..?

Mengapa rasa memiliki? Karena di sana ada hati. Bukankah segala cerita yang dengan berani menepikan hati akan hambar terasa? Kau hanya selayak robot yang menjalankan segala perintah tuannya, tanpa senyum, tanpa binarmata ceria, bahkan tanpa hangat sapa yang mengundang cinta. Lebih parahnya kau meninggalkan arena bahkan saat pertunjukkan belum lagi dimulai. Mengenaskan. Kau memilih menjadi pecundang disaat yang lain tersenyum berjuang. Kau mengunyah hidangan yang Allah siapkan di depanmu dengan semaunya, kadang dimakan, lebih sering kau abaikan. Lalu ketika kekuatanmu semakin surut, siapa yang hendak kau salahkan?

Kehilangan rasa cinta atau belum jua merasa memiliki terhadap apa yang ada di depan mata bisa menjadi derita luar biasa. Betapa lelahnya menggarap sesuatu dengan kehadiran setengah ruh, amat membosankan menjalankan rutinitas yang hanya menjadi gerak mekanik, melibatkan sepenuh jasad tetapi tanpa melibatkan hati, tanpa kelapangan jiwa yang seharusnya. Hal tersebut dapat dengan drastis menurunkan produktifitas atau yang lebih membahayakan adalah jika itu menjadi lantaran kita berada di wilayah kufur nikmat. Na’udzubillah..

Pada dimensi yang berbeda, sergapan rasa memiliki terhadap sesuatu yang belum menjadi hak atau bahkan sesuatu yang jelas-jelas bukan milik kita tak bisa dianggap sederhana. Keterlibatan hati (yang berlebih) di sana justru menjadi penyebab utamanya. Memaksa Sang Pemilik untuk memberikan hal yang kita inginkan merupakan tindakan yang melemahkan. Karena terkadang, yang kita inginkan bukan merupakan hal yang kita butuhkan menurutNya. Maka ketika titah langit telah tersurat, apatah lagi yang bisa dilakukan selain mematuhinya dengan segenap cinta. Adapun yang belum menjadi hak bagi diri, tak semestinya kita was-was atasnya. Bahwa Allah akan memberikan segala yang pantas, sesuatu yang pas dan tentunya memuliakan harus kita yakini sepenuh-penuhnya.

Pada akhirnya kita harus dapat melihat dengan tepat kapan dan untuk siapa rasa cinta harus ditumbuhkan, serta bagaimana kita melibatkan hati untuk setiap rasa yang kita miliki. Tak mudah memang, tapi mengutip perkataan seorang saudara, “Libatkan Allah dalam setiap prosesnya..?


dhuha, 15/4/12


***NtMS



19 thoughts on “[karena perjalanan adalah teman] tentang rasa memiliki

  1. titintitan said: Kehilangan rasa cinta atau belum jua merasa memiliki terhadap apa yang ada di depan mata bisa menjadi derita luar biasa

    suka sama kalimat akhirnya :)tidaklah ada kelezatan kecuali setelah kelelahan. tidak apa berlelah-lelah didunia, karena kenikmatan sejati adanya di Surga. semangaaaaat teteh🙂

    Like

  2. rivenskyatwinda said: suka sama kalimat akhirnya :)tidaklah ada kelezatan kecuali setelah kelelahan. tidak apa berlelah-lelah didunia, karena kenikmatan sejati adanya di Surga. semangaaaaat teteh🙂

    nuhuuun neng Wind,afwan chat ym nya putus nyambung ;d

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s