[LOMBA AKU] Aku dan Cumi-Cumi

bismilLaah

Aku pernah bilang ke Ibu, “Pokoknya berasa nggak lebaran, kalau nggak ada cumi-cumi.” Entah berapa tahun lalu aku bilang seperti itu ke Ibu, tapi yang jelas Ibu memang sudah sangat paham, bahwa aku adalah penggila cumi-cumi. Sedari kecil.

Cumi-cumi. Sebenarnya aku juga tidak tahu, apa nama kue ini ditempat lain. Tapi menurutku nama ini cukup aneh terdengar di telinga. Sebab tak ada sama sekali rasa cumi-cumi didalamnya, bahkan bentuknyapun tak ada mirip-miripnya dengan hewan laut tersebut. Kue ini berbahan dasar tepung terigu dan telor. Dibikin adonan, dicetak untuk kemudian di goreng. Rasanya sama persis dengan kue cistik. Ya, karena memang cumi-cumi adalah bentuk lain dari cistik. Ia dibuat seperti angka delapan. Sedang cistik dibuat lurus saja seperti lidi.

Tapi buatku, rasanya enakan cumi-cumi daripada cistik. Hmm.. entahlah. Sensasinya saja yang lain, padahal rasanya sama-sama juga.

Dulu Ibu selalu membuat kue cumi-cumi ini tiap lebaran. Dan kami —aku, Bapak, adik, akan kerja bakti dari habis sahur hingga menjelang dzuhur untuk membantu mencetak adonan kemudian menggorengnya. Jujur, dulu hal yang paling membosankan untukku saat ramadhan adalah saat-saat 10 hari terakhir. Karena hari-hariku akan terusik dengan buat membuat kue. Ibuku membuat sendiri semua kue suguhan untuk lebaran. Dalam porsi banyak dan pastinya lebih dari sepuluh macam kue, termasuk kue cumi-cumi tersebut. Untuk anak kecil, kegiatan itu akan mengganggu waktu tidur juga bermain, bukan?

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 19 September 2006. Bapak Ibu mangalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi oleh keluarga besar kami masuk jurang saat pulang kondangan dari saudara. Dan saat itu bertepatan dengan seminggu sebelum ramadhan tahun 2006. Ibu mengalami luka memar yang cukup parah, beliau belum bisa jalan hingga satu bulan kemudian. Sedang bapak yang patah iganya, harus bedrest 3 bulan. Praktis kami mengalami ramadhan dan lebaran yang lain dari biasanya. Jangankan untuk memikirkan suguhan, melihat kondisi Bapak Ibupun sudah cukup mengundang airmata.

Hingga akhirnya lebaranpun kami lalui tanpa kue-kue bikinan Ibu. Semua suguhan kami dapatkan dari saudara-saudara yang menengok Bapak Ibu. Dan mulai sejak itulah, Ibu sudah jarang membuat kue jika lebaran tiba. Dampaknya adalah aku tak dapat lagi menikmati kue cumi-cumi bikinan Ibu. Sebenarnya beli juga banyak, tapi tak akan seenak bikinan Ibu. Namun sebagai gantinya, acapkali Ibu membuat kue cumi ini saat aku mudik. Biasanya aku dibekali untuk oleh-oleh dan camilan di kosan. Sampai sekarang, niatan Ibu untuk membeli cetakan kue tersebut juga urung, karena fisik yang memang sudah tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti dulu lagi. Sedang anak-anaknya tidak ada yang mempunya hobby membuat kue seperti Ibu.

Lebaran kali ini semuanya seolah terulang. Jangankan untuk membuat kue, dua pertiga ramadhan kami habiskan di Rumah Sakit. Kali ini bapak yang harus berjuang berperang melawan Ca-nya. Dan karena aku sudah selesai kuliah, Ibupun tak lagi membuatkan kue cumi-cumi khusus untukku. Namun aku masih sering membelinya, demi memuaskan kerinduanku pada kue tersebut.


Kebumen, Ramadhan 26



**diikutkan dalam hajatan lombanya Mba Akuai dan Mba Akunovi ^,^


21 thoughts on “[LOMBA AKU] Aku dan Cumi-Cumi

  1. akuai said: sedih baca kecelakaan itu :(btw, namanya bukannya klanting yaa? Temenku kalo mudik dari kebumen sering bawa oleh2 itu..

    hm.. iya yah. afwan.. ada juga Lanthing, Mba. bukan klanthing di sini mah. tapi yg Tin maksud bukan itu. ini mah bener2 sama kaya cistik di cetaknya beda.dibikin lembaran 2x3cm di gunting tengahnya dikit, trus di balik biar kaya angka 8*hadeeeuh.. bingung neranginya. pasti ga ngerti yah? ;d

    Like

  2. suci55 said: gambarnya donk tin, hmm seperti chîstik model nmr 8 ya. *garuk2 kepala*

    nah itu die Mba Suci. tin gugling gak nemu. adanya cistik yg biasa. karena lagi gak punya kuenya, jd ga bisa di poto sendiri ;d

    Like

  3. titintitan said: dibikin lembaran 2x3cm di gunting tengahnya dikit, trus di balik biar kaya angka 8*hadeeeuh.. bingung neranginya. pasti ga ngerti yah? ;d

    iyaa, bingung. hehe… owh, ternyata beda yaa? dan aku baru inget, namanya emang lanthing, bukan klanting. kalo klanting mah yang di Indonesia Mencari bakat yaa? :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s