r.u.m.a.h

bismillah..
Kembali kerumah adalah menjalani rutinitas yang berbeda seperti saat masih dikosan. Kos adalah simbol dari sebuah “kebebasan.” Artinya sepenuh tanggung jawab atas diri murni kita ambil alih keseluruhan. Sedang dirumah ada tanggung jawab sosial yang tak bisa dilepaskan begitu saja seperti saat kita tinggal di kosan.
Berada di kosan, bisa saja tinggal dikamar seharian, tanpa peduli siapa yang ada dikamar sebelah, tanpa mau tahu bahwa ternyata teman depan kamar kita sedang sakit. Nampak keterlaluan memang, tapi pada kenyataannya tak jarang hal itu terjadi.
Berbeda dengan dirumah. nggak keluar sehari saja. Ada tetangga sebelah yang bilang.
“wah, Mba Titin dirumah toh? kirain gak ada. gak kelihatan dari kemarin.”
“Dedenya di bawa main Mba, jangan di dalem terus.”
lain waktu, sore-sore. “Mba, ini jemurannya tak angkatin.”
atau “Mba, ayamnya mau bertelur tuh dari tadi kelabrukan gak jelas.”
Hmm.. begitulah. Rumah selalu sepaket dengan lingkungannya. Tetangga, maupun interaksi yang memang sudah selaiknya.
Sedikit merasa gagap saat harus ditinggal 2 minggu tanpa Bapak Ibu. Benar-benar jadi belajar “mempunyai rumah sendiri.” Aku yang hampir 10 tahun kos, ketika tiba-tiba harus pulang kerumah dan membuat KTP baru, masih ribut nanya kantor kecamatan dimana? Atau juga saat harus menggantikan tugas bapak bayar-rekening, harus nanya-nanya dimana kantor inilah itulah. *halah! serasa turis di kampung sendiri.
Belum lagi, saat listrik rusak, gas bermasalah. Aku yang cuma bertiga bareng adik perempuan dan bayi 8 bulan tentunya harus cepat tanggap. Manggil tukang listrik, manggil tetangga untuk benerin gas. Juga saat ada hajatan, aku yang gak begitu kenal dengan teman-teman ibu juga harus mewakili untuk kondangan *barie gak tahu rumahnya juga * menyelesaikan urusan posyandu Ibu, arisan Ibu, arisan Bapak, nyariin ayam yang gak pulang. heheh..
Yeaaah, benar. Hidup bermasyarakat memang perlu manajemen. *tsaah . Baru nyadar betapa enaknya jadi anak. Dirumah segalanya tinggal bilang, tinggal minta. Pun dulu KTP or kalau perlu ngurus-ngurus surat apa gitu selalu di urusin sama Bapak. Jadi berasa jadi anak manja banget
Sebenarnya gak manja juga sih, cuma memang orang tua tak bisa melepas begitu saja apa yang kemudian sebenarnya menjadi urusan kita. Aku selalu diantar dan dijemput saat pulang dari Bandung. (pernah diantar sampai Bandung dan Bapak langsung pulang lagi) Seringnya juga di beliin tiket travel agar bisa nyampe langsung depan pintu kosan. Sampai2 label akhwat manja pernah keluar dari mulut seorang ikhwan. Gak ada perjuangannya banget jadi mahasiswa. Belum lagi segala bawaan, sehingga aku gak pernah beli tuh yang namanya deterjen dan tetek bengeknya. ahaha.. enak juga yak?
Yeyeyeyey.. alhamdulilLah sekarang sudah lebih terbiasa dengan semua. Belajar punya “rumah sendiri” plus adab bertetangganya. Terimakasih yayu untuk pembelajarannya *dan masih sampai entah harus b-3
Kebumen 23.15
*Allah sebaik-baik penjaga, luv u pak, yu..

2 thoughts on “r.u.m.a.h

  1. bukannya di kosan jg terbiasa ngebenerin genteng bocor sendiri yak? hehe…pasti aku lebih gagap darimu. selamat, sudah ‘belajar’ menapak kaki di kehidupan ‘sebenarnya’ hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s