p-e-d-u-l-i

bismillah,
peduli? mahalkah ia?
Sedih, ketika berkunjung kerumah seorang ibu muda dengan usia bayi yang beru lepas dari sebulan. Dan ia ‘sendirian’ dirumah. Suaminya tentu saja kerja, anak pertamanya baru kelas 2 SD. Ia sekolah. Repot? Pasti. Bayi pada umur segitu biasanya susah untuk di tinggal, hatta mandi apalagi masak.
Tapi yang membuat sedih karena ia tak benar-benar tinggal ‘sendirian’. Ada sepasang bapak dan ibu mertua yang tinggal satu atap. Mungkin memang usianya tak lagi muda, tapi kalau kulihat juga bukan tak kuat untuk sekadar membantu menjaga bayinya. Sampai kemudian meluncurlah cerita dari sang Ibu muda tentang ketidak pedulian Ibu dan Bapak mertuanya akan kelahiran cucunya.
“udah mereka gak nengok, trus pas awal-awal aku melahirkan kan sendirian dirumah karena suami kerja. trus masih banyak tamu. dan beliau berduapun dengan teganya pergi meninggalkanku sendiri. padahal masih banyak tamu. sampai tamunya yang nangis, ngliat aku kerepotan.”
Dan sekarang ketika sang mertua sakit, bahkan sempat opname ke RS. Sang ibu mudapun mengikuti jejak sang mertua, tak menengok atau sekadar menyapa. tak sekali dua, aku mendengar kisah yang seperti itu.
Sedih. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, haruskah begitu? Bukankah sejatinya kita yang butuh untuk berbuat baik, bukan sekadar orang lain yang semata-mata membutuhkan pertolongan kita?
p-e-d-u-l-i
Lain kisah. Ketika ada sepasang suami istri yang mengaku tidak betah tinggal serumah dengan mertua justru karena sang mertua terlalu peduli. Bukan bermaksud turut campur tentunya sang mertua, namun ia memang sedang menikmati perannya yang baru pertama kali menjadi nenek. Sehingga sang nenekpun ingin ikut berkontribusi untuk cucu pertamanya tersebut. Dari mandiin dan semuanya, sampai sang ibupun, hanya bisa berkata dalam hati,
“itu anak saya.. dan izinkan saya belajar menjadi seorang ibu..”
Dia menjaga hati Ibunya, sehingga ia berusaha luwes mengimbangi peran sang nenek baru. Tetapi bukan hanya anaknya yang di perhatikan, suaminya yang merupakan menantu sang Ibu juga turut merasakan perhatiannya. Dari mulai pagi-pagi pasti dimasakin sarapan, dibikinin minum dan di siapin bekal untuk kekantor. Bagaimana dengan sang istri? Ia selalu kalah sigap untuk hal yang satu ini. Mungkin karena memang pasangan baru, dan diapun cape karena harus siaga untuk bayinya tiap malam.
“saya ingin segera mandiri dan keluar dari sini.” sang istri curhat sesekali.
***
Hmm, ternyata peduli berlebih juga gak bagus. Tentu saja. Sebab sesuatu yang berlebihan juga tak pada tempatnya. Peduli, kepedulian. Memang susah susah gampang. Tapi kita sama-sama percaya bukan? ketika kita memberikan cinta kepada saudara karna Allah, maka Allah akan menghadirkan cinta dari segenap semesta untuk kita.
*sedang belajar peka dan peduli

10 thoughts on “p-e-d-u-l-i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s