Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu*

Sangat tidak mudah berada pada kondisi menerima vonis penyakit apa yang tengah diderita orang yang kita sayang. Perlu ekstra tenaga dan senyum untuk sekedar melerai gundah. Tapi ternyata sebagai seorang phlegma hal itu cukup membantu. Disaat orang2 rumah panik dengan berbagai hal, sang phlegma masih bisa menanggapinya dengan penjelasan detail seraya tersenyum. Disaat orang-orang bertanya tentang vonis yang cukup menyeramkan tersebut, sang phlegma terlebih dahulu menyapa dengan senyum sehingga sedikit meredam kekhawatiran.
“Wah nembe nek mb Titin gak senyum dulu, aku wis lemes meh semaput.” kata salah seorang saudara.
Segitunya yah? padahal, cuma mikir. Moso mau nangis? Yo, isin. Minimal senyum dululah, baru kalo mw nangis, monggo heu.. Dan pas di jalan menuju tempat saudaraku itu, aku sempet nangis juga sebenernya di motor.
Lain lagi, komentar adikku mengenai suaminya yang phlegma sejati juga. “Mas Vinis nek di takeni datar banget. Jawabannya; Bapak ya baik. Stabil suhu badan sama tensi. Bisa tidur nyaman juga. padahal Ririn udah panik, tanyanya serius bener, jawabannya begitu thok.” lanjutnya.
Ahahah.. yo emang begitu. mau ngapain lagi, toh panik, sedih nangis berlebihan gak bisa jadi solusi. So ya, mending menata hati biar tenang. (alasaaan, padahal nangis sejadi2nya juga, cuma malu ketauan aje )
Alla kulli hal,
Ternyata dalam kondisi apapun ketenangan hati dan menjaga prasangka memang sangat diperlukan. Apalagi pada kondisi dan situasi yang kapan saja bisa menyulut emosi. Menjadi pengalaman berharga buatku, saat merasa seorang diri menjaga Bapak, sedang kaka dan adik berada di 3 kota yang berbeda. Pagi konsul dengan dokter yang jujur aja membuat hati makin ciut dan muka memucat memasi. halah! Dan sebelum dokter datang, bawaannya pasti deg2an, berasa mw bimbingan trus takut di marah2in heheh..
Siang sampai malam di hubungi orang2 rumah bertanya tentang kondisi Bapak lengkap dengan solusi yang di tawarkan. Rasanya niy kepala penuh aja, yang jelas harus menjaga kata2 biar Ibu ga shock, Bapak tetap semangat dan apa yang kusampaikan sesuai dengan apa yang disampaikan dokter. Makanya sms2 dari temen2 rata-rata kupending. Dan bahkan jarang ada yang tau aku sdg di Yogya. Afwan yo, tak bermaksud abai atas perhatian semuanya..
Intinya sedang “merasa beruntung” menjadi seorang phlegma yang tampak adem ayem. Sampai adik ipar yang phlegma juga bilang; “Mba Tin ko tampak ayem-ayem ajah.” aku hanya cengar cengir. Adem ayem piye?
Dan aku baru ngrasain ini, setelah kaka yang pertama ikut nungguin. Seharian mukanya tegang, semalaman juga susah tidur. Bahkan kalo ada dokter bawaannya makin tegang plus gak mw nemuin. Bayangannya hal-hal yang negatif wae. Belum lagi Ibu yang malah ikut tepar pas dateng ke Rumkit.
Wuduuu.. bukan trus aku tampak hebat dengan segala ekspresiku yang adem2 aje. Justru kusebut ini ekspresi urdu eror karena suka telat berekspresi. Saat awal Dokter membacakan ronsen, aku sempet berasa ga napak, nafas sesek, kepala rasanya aneh dan suara ilang timbul. Dan pas aku crta ke roomeetku. Kata dia,“tandanya kamu normal, Tien.”
dueng..dueng..
Yup! karena biasanya aku hampir gak pernah punya ekspresi begitu, meski sesedih apapun. Jadi suka dibilang gak normal. heheh..
Yo wislah.. life must go on toh apapun yang terjadi?
tetap jaga prasangka padaNya dan tersenyumlaaahh…
“Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu,” kalo kata Ajuj.*
^_^

14 thoughts on “Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu*

  1. langitcantik said: Pelajaran berharganya adalah: Takperlu menjadi plegmatis untuk menjadi orang yang tenang. Takperlu menjadi koleris untuk menjadi orang tegas.

    setujuuuuuuuuuuuu….!jadi? hayuu atuh ah, bertegas2lah sang phlegma yg sdg dilema :Ddan berlembut2lah sang kole..

    Like

  2. langitcantik said: Pelajaran berharganya adalah: Takperlu menjadi plegmatis untuk menjadi orang yang tenang. Takperlu menjadi koleris untuk menjadi orang tegas.

    moga bapaknya cepet sembuh mba…klo saya perpaduan mba, kadang plegmanya dominan kadang melankolisnya yg dominan, hehe

    Like

  3. nuqiechan21 said: moga bapaknya cepet sembuh mba…klo saya perpaduan mba, kadang plegmanya dominan kadang melankolisnya yg dominan, hehe

    aamiin, syukron neng :)tin phlegma yg sdh membelah diri juga siy, sekilas pasti dikira sanguin sma bisa koleris kadang2😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s