KALIFA FIRDAUSY FAHRIN

Backsound Kusnul Khatimah Opick

Ahad, 31 Oktober 2010

18.02

“mhn doany semua. Skrang fahrin masuk icu. Nafasnya satu2 harus dipasang alat.?

Bue Im3

Itu adalah bunyi sms dari Ibu sesaat setelah kau masuk ICU sebulan yang lalu sayang..

Sebelumnya Ibu juga sempet sms, memberitahukan keadaanmu yang masih saja muntah sekembali dari Yogya. Saat itu amah kaget, mendengar kau sampai harus masuk ICU. Amah balas sms ibu dengan pertanyaan bertubi. Tidak ada jawaban. Tak lama Om fajri telp amah, menanyakan kejelasan keadaanmu, karena beliau belum berani telp Ibu, watir lagi riweuh. Belum lama kami ngobrol, tiba2 ada telp dari Ibu masuk ke HP Om Fajri. Karena khawatir dengan keadaanmu, kami berhenti ngobrol dan Om Fajri kemudian menerima telp Ibu. Beberapa menit kemudian Om Fajri telp amah lagi. Dan dengan cukup histeris, Om Fajri bilang “Mbaaa, Fahrin Meninggaal….!!? Kami terdiam, Om Fajri terdengar sesenggukan, amah hanya terdiam. Sesaat masih tak percaya apa berita ini benar atau tidak. Sejurus kemudian, kami tersadar dan segera memutus pembicaraan, sibuk dengan pikiran masing2. Sms sana sini, dan berusaha menghubungi orang rumah untuk bertanya tentang pemakaman dsb.

Beruntung, Mbak Minah telp amah.. namun ternyata amah hanya bisa mendengar tangisan histeris dari Mba yang belum 3 bulan antar jemput kau ke Play Group. Kaka Adnin juga sempet ngobrol sama amah, meski yang kedengeran justru tangisnya aja. Amah speechless, amah gak tahu musti sms apa ke Ibu, hanya ucapan Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun yang amah kirim ke HP Ibu, dan sejam kemudian Ibu balas dengan kalimat yang sama. Om Fajri, Amah Afni, Amah Rika, Amah Hani langsung smsan untuk datang ke Rumah Kain Kasa kita. Sedang amah lagi di Kebumen, jadi gak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya sayang..

Layaknya baru copot gigi, maka saat itu amah gak ngrasain apa-apa. Sakitnya belum berasa sebab masih tersisa biusnya. Amah serasa masih belum percaya. Bahkan sepekan setelah kepergianmu, amah susah tidur malam. Amah gak berani buka aMeey, ga berani buka FB, takut melihat fotomu dan inget dan pasti nangis. Dua minggu kemudian, tiga minggu amah serasa belum juga percaya. Amah masih speechless, hingga sms2 ibupun jarang amah jawab. Amah bingung mw ngomong apa. sungguh rasa kehilangan itu belum hadir, hingga amah harus lihat fotomu, baru ada rasa kehilangan itu. Amah ngrasa kau masih ada.

“Main ke rumah dong.. biar kerasa,? kata Ibu suatu kali. Ya, tampaknya amah harus kembali ke Rumah Kain Kasa secepatnya.

Kau, Fahrinku.. anak yang yang lincah, periang dan hampir gak pernah nangis kini sudah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Kata Dokter, kemungkinan kau tersedak muntahan sendiri. Ibu juga sempet sms bilang bibirmu sampai biru, nafas tersengal dan harus di pasang alat bantu pernafasan. amah gak kebayang gimana sakitnya.

Terakhir ketemu, kau bareng ayah, kaka Hurin, kaka Adnin mengantar amah dan Mba pagi-pagi untuk ikut ujian. Dan karena amah harus segera balik Bandung, saat itu amah pulang ujian langsung siap2 ke Bandung. Padahal saat kau disuruh bobo siang, amah udah menawarkan diri dan kau sudah membuntuti amah serta bilang ke Budhe.. mw sama amah aja. Hmm.. afwan sayang

Tanggal 30-31 Oktober adalah jadwal yang sudah Ibu dan Ayah rencanakan untuk jalan2. Sekedar memberitahukan gimana rasanya naik pesawat untuk kau sayang.. juga kaka Hurin dan Adnin. Dan dari awal perjalanan ibu selalu sms amah, memberikan kabar2, termasuk juga kabar sakitmu sesampainya di yogya, yang saat itu juga sedang “gelap? karena abu Merapi. Kata Ibu kau demam yah.. muntah2 pula. Kecerianmu hilang tiba2. Amah yang sedang riweuh karena Bapak Ibu yang juga sakit, tak sempat bertanya banyak perihal sakitmu. Maaf ya Fahrin sayang..

Sekarang amah hanya ingin mengenang tentang sedikit waktu yang “sempat? Allah anugrahkan untuk kita. Betapa indahnya saat2 itu.. ya, amah baru bisa menuliskannya sekarang sayang.. selang sebulan kau tiada..

Rumah Kain Kasa,

Itu adalah nama rumah yang kami sepakati untuk menyebut Rumah Pamulang. Sebab layaknya kain kasa yang di pergunakan untuk membalut luka, begitulah fungsi rumah yang dulu kau diami sayang.. rumah itu seperti tempat untuk “kembali pulang.? Tempat melarung duka dan penat yang menghinggap. Mendengar celotehanmu yang tak henti2nya, main raket bareng, naik sepeda keliling kompleks, tebak2an bareng kaka Hurin dan kaka Adnin, maupun agenda jalan2 yang selalu disempatkan Ibu saat kami datang.

Kami? Ya, kami Amah dan Om barumu. Yang awalnya hanya kenal sama Ibu melalui telp dan chatting. Amah sendiri di kenalin ke Ibu dari amah Afni dan Om Fajri. Yang akhirnya mengaku sebagai keluarga. Foto itu kenangan terakhir keluarga lengkap kita, malah bertambah ami Muhtar sekarang yang udah jadi suami amah Afni.

Allah, Dialah yang menyatukan kita. menyambungkan hati2 kita hingga berasa sudah kenal lama dan menjadi keluarga dengan sebenar-benar. Sayang.. tentunya masih ingat saat pertama kali amah datang, hmm.. bulan Juli. Ya, baru 5 bulan yang lalu sayang.. amah mengenalmu. 5 bulan yang lalu amah pertama menginjakkan kaki di Rumah Pamulang bareng amah Afni. Oh ya, amah juga baru kenal Ibu 2 bulan sebelumnya. 2 bulan? Waktu yang amat pendek untuk kita menjadi keluarga, tanpa pernah bertemu sebelumnya, tanpa pernah ngobrol langsung selain lewat chatting dan telepon. Aaah.. apa siy yang gak mungkin untuk Allah. Rabithah itu begitu lekat, hingga Ia dengan begitu mudah membuat kami saling mempercayai. Begitu mudah Ibu menganggap amah, amah afni, om fajri sebagai adik hingga tak jarang pulsa dan kiriman oleh2 mampir kekosan meski saat itu kami masih belum pernah ketemu langsung.

Mengingatmu sayang.. seperti berjalan di tengah taman yang indah dengan bermacam warna bunga juga kupu2 yang beterbangan serta music rancak yang membuat kita selalu tersenyum, berlompatan dan tertawa. Seperti kebersamaan kita saat kau selalu minta di putar ulang lagu Rindu Muhammadnya Haddad Alwi. Kau bilang, lagu Ya Rabibil.. Kita tertawa-tawa saat itu, menari berputar putar. Aahh.. amah kangen melakukannya lagi denganmu sayang..

Amah kangen fahrin.. dan sekarang tak ada lagi yang selalu menyahut kalimat amah dari ujung telp dengan; “kallo kangeen kesini dooong..?

Gak ada yang minta di bikinin susu di botol biru. Gak ada yang minta di temenin bobo. Gak ada yang selalu main air. Gak ada yang bilang; aMeey kasihan yah mah.. aMeey kasihan yah mah.. dibersinin. dengan aksen yang lucu dan mata mengerjap.

Gak ada yang dengan semangat jadi makmum shalat dan mendahului amah saat membaca Al Fatihah, untuk kemudian main2 sendiri dan baru kemudian ikut lagi saat salam.

Gak ada yang bilang braain untuk biarin, pissa hat untuk pak sahid, minta surip untuk minta sirup. Atau juga “ Bismika allahumma ahya wa bismika amuut.. amuut.. amuut..? karena amuut dikira sama dengan amin pada doa selesai makan. Kau yang lucu, selalu membuat kami tersenyum dan tertawa riang.. ^_^

Fah
rin sayang.. tak sekalipun kau membuat amah kesel, kecuali kebandelanmu bermain air yang kadang membuat amah harus memperingatkanmu. Atau juga ancaman amah untuk balik Bandung cepat2 biar kau mw peluk dan cium amah serta ngrajuk agar amah gak pulang Bandung cepet2. Kalau kau tahu sayang, bukan kau yang butuh amah, tapi amah yang selalu bergembira di dekatmu. Segala penat serasa hilang, bagai mentega yang lumer saat di oleskan di roti panas. Kalo kata Om Fajri.

Kalifa Firdausy Fahrin,

Tak benar2 pergi sebab kau selalu di hati, sayang.. tak benar2 menghilang sebab segala indahmu selalu terkenang.

Selamat bermain di indahnya taman surga ya shalehah.. semoga Allah mempertemukan kita di tempat yang paling indah kelak. Amah berasa masih speechless, tak bisa menysusun kalimat indah tentangmu. Sebab, kaulah keindahan itu.

Luv u so.. ^_^

2 thoughts on “KALIFA FIRDAUSY FAHRIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s